10/11/20

Mendeteksi Angin Kencang

 Langkah Mendeteksi Angin Kencang Menggunakan Citra Radar Cuaca


1.Analisis Produk CAPPI

CAPPI adalah irisan horisontal melalui atmosfer oleh karena itu diperlukan sebuah scan volume PPI di beberapa sudut elevasi. Jumlah sudut dan spasi CAPPI bergantung pada jarak dan ketinggian CAPPI  yang ingin kita hasilkan (biasanya 0.5, 1,1.5 km).

Gambar 1. Produk CAPPIz

  • Menentukan Cell awan konvektiv (Cb), yaitu dengan analisa produk CAPPIz dengan area yang memiliki nilai reflektivitas >40 dbz.

Analisa Produk CPPIz dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

Jika pada produk CAPPIz terdapat area yang merupakan Cell awan Cb, lakukan analisa pada citra radar produk CAPPIz jam berikutnya (bisa 10-50 menit). Jika ada dua area Cell awan Cb berdekatan, pada citra jam berikutnya mendekat atau menjauh, Jika mendekat menunjukan makin kuat tingkat pertumbuhan Cell. (Jam berikutnya maksudnya dilakukan secara kontinu)

    Gambar 2. Produk CAPPIz

    Jika pada Produk CAPPIz terdapat satu Cell berjauhan, lakukan analisa pada produk CAPPIz 10 menit berikutnya makin melebar atau bahkan hilang. Jika makin melebar menunjukan makin kuat pertumbuhan Cell.
  • Lakukan Cross Section (Irisan Vertikal) dari setiap Cell awan Cb

Gambar 3. Irisan Vertikal Cell Awan Cb

Analisa Irisan Vertikal dilakukan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan Awan Konvektiv secara vertical. Semakin tebal cell yang memiliki nilai dbz >40 menunjukan makin kuat pertumbuhannya, begitu juga sebaliknya.

Analisis Produk PPIv

Produk PPIv merupakan produk dalam moment Radial Velocity pada radar cuaca.


Gambar 4.  Produk PPIv

Analisa produk PPIv digunakan untuk menentukan area yang memiliki kecepatan radial tinggi. Analisa dapat dilakukan dengan melakukan irisan vertical.

Gambar 5.  Membuat Irisan Vertikal Pada Citra radar

Klick Icon (lingkaran merah) dan drag ke area yang diinginkan pada citra Radar, selanjutnya buat skema garis pada area target sehingga akan muncul jendela Irisan vertical yang menunjukan citra radar secara vertical.

 

Gambar 6.  Cross Section (Irisan Vertikal) Produk PPIv

2.Analisa Irisan vertikal produk PPIv dapat dilakukan sebagai berikut :

    1. Jika warna hijau bening mendominasi disekitar warna merah tua menunjukan adanya gerak vertikal angin kebawah. Hal ini dapat dijadikan rujukan untuk menunjukan adanya angin kencang dipermukaaan bumi (putting beliung).
    2. Jika warna hijau bening dan merah muda (bening), pada area yang sama, menunjukan adanya angin kencang dipermukaaan yang disertai adanya hujan lebat. Secara teoritis menunjukan adanya downdraft dan updraft dan menunjukan adanya pertumbuhan cell yang cukup kuat.
    3. Jika warna merah muda (bening) mendominasi pada suatu area, menunjukan adanya pertumbuhan cell yang diserta adanya hujan tanpa adanya angin kencang.
Gambar Hijau Bening

Gambar Merah Bening

3.Analisa Produk VIL

Gambar 7 Produk VIL

4.Membedakan Cell yang Updraft, Downdraft, dan Komparasikan Dengan Produk Cmax CRR

Cell Updraft (peregrakan massa udara kelapisan yang lebih tinggi) mengindikasikan adanya pertumbuhan awan konvektiv sedangkan Cell downdraft mengindikasikan adanya butiran air yang berpotensi jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan. Cmax CRR adalah produk turunan dalam moment Corected Rain Rate (CRR).
 
Gambar 8. Produk SRV

Gambar 9. Produk Cmax CRR

Pada citra SRV wilayah ordo hijau adalah wilayah downdraft yang merupakan wilayah hujan, wilayah ordo merah adalah wilayah updraft, yang mengindikasikan adanya pertumbuhan awan dan potensi terjadinya hujan.

5.Proses UWT
Mendeteksi Pergerakan Cell menggunakan UWT, PPIv, dan Komparasikan dengan Cmax CRR. Pergerakan Cell dapat dimonitoring menggunakan produk UWT (universal wind technique) dan PPIv (produk PPI moment Radial velocity). Produk UWT yang digunakan Sweep 1, Sweep 2, dan Sweep 3. 



Read More

10/8/20

Sekolah Lapang Cuaca Nelayan 2019 Cilacap

Pengenalan Informasi Cuaca Dan Iklim Untuk Kegiatan Nelayan

Di Wilayah Kabupaten Cilacap

Dalam beberapa tahun terakhir kondisi cuaca dan iklim yang sangat beragam merupakan tantangan utama dalam pengelolaan di berbagai sektor. Hal ini mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan tentang potensi terganggunya ketahanan pangan termasuk di sektor kelautan dan perikanan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pendekatan lebih mendalam mengenai cuaca dan iklim guna mengantisipasi dan mengatasai dampak yang ditimbulkan, serta turut mewujudkan visi dan misi program NAWACITA tentang “Kedaulatan Pangan dan Pengembangan Ekonomi Maritim dan Kelautan”.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Cilacap secara rutin menyiapkan informasi cuaca dan iklim yang berguna untuk sektor perikanan, seperti Prakiraan Musim Hujan dan Kemarau, Prakiraan Cuaca Harian/Ekstrim, Prakiraan Gelombang dan Arus Laut serta Prakiraan Arah dan Kecepatan Angin. Pelaksanaan kegiatan SEKOLAH LAPANG IKLIM NELAYAN (SLI - Nelayan) merupakan langkah nyata BMKG dalam mendukung program Ketahanan Pangan Nasional melalui pendekatan adaptasi resiko iklim, terutama di sektor kelautan dan perikanan.

 Kegiatan SLI Nelayan ini diikuti oleh para petugas Penyuluh Perikanan, Nelayan dan petugas dinas terkait di jajaran pemerintah daerah Kabupaten Kota sebagai mitra kerja nelayan. SLI-Nelayan merupakan upaya peningkatan pemahaman para nelayan dan petugas perikanan terkait tentang isi informasi iklim dan pemanfaatannya. Untuk peningkatan kegiatan SLI-Nelayan, disiapkan paket modul yang menjabarkan isi informasi iklim BMKG. Modul berupa panduan bahan ajar dan beberapa suplemen pendukung materi. Paket Modul yang disusun pada SLI Nelayan ini dibagi menjadi 2 tahap yang terdiri dari 5 Modul yang akan dipaparkan di Tujuan Instruksi Umum. Dengan acuan modul yang ada maka diharapkan interaksi peserta dan narasumber SLI-Nelayan dapat lebih mudah dipahami, dievaluasi dan memberikan dampak positif kepada peserta. Demikian semoga modul ini dapat dimanfaatkan dan berguna untuk kegiatan kelautan dan perikanan.


Tim Penyusun Modul SLI Nelayan 2019


TUJUAN INSTRUKSI UMUM

Maksud dan tujuan dari masing-masing modul adalah:

  1. Modul 1 (Kontrak Belajar), dimaksudkan untuk mengenal satu sama lain diantara peserta dan mengembangkan hubungan yang lebih dekat, menetapkan tujuan dan hasil yang diharapkan serta kegiatan tindak lanjut dari proses belajar, meningkatkan pengertian ilmiah yang sekarang dan kreativitas sebagai kunci sukses dalam proses pembelajaran; serta mengidentifikasi dan pemetaan masalah yang terkait cuaca dan iklim di wilayahnya. Adapun tujuannya agar peserta mampu bekerjasama dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang terkait dengan cuaca dan iklim.
  2. Modul 2 (Mengenal Cuaca dan Iklim Dalam Kegiatan Perikanan), dimaksudkan untuk mengenal dan memahami unsur cuaca dan iklim yang berpengaruh dalam  kegiatan yang berkaitan dengan perikanan di wilayah tersebut. Adapun tujuannya adalah memberi pemahaman perbedaan antara cuaca dan iklim.
  3. Modul 3 (Informasi Cuaca dan Iklim Untuk Kegiatan Perikanan), dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang informasi prakiraan cuaca dan iklim yang diperlukan oleh PPL Perikanan dan Nelayan. Adapun tujuannya adalah memberikan pemahaman tentang bahasa teknis cuaca dan iklim menjadi bahasa yang dimengerti oleh para nelayan.
  4. Modul 4 (Proses Pembentukan Angin, Awan, Hujan dan Gelombang), dimaksudkan untuk belajar dan memahami proses pembentukan uap air dan hujan, pengaruh angin pada pembentukan awan dan hujan, serta terbentuknya gelombang. Adapun tujuannya agar peserta memahami unsur utama pembentuk kejadian tersebut.
  5. Modul 5 (Memahami Informasi Kelautan untuk kegiatan Perikanan), dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang informasi cuaca, iklim dan kelautan yang ada. Adapun tujuannya agar peserta dapat lebih efisien dan efektif dalam kegiatan perikanan serta mengurangi dampak buruk dari kondisi cuaca dan iklim yang terjadi. Sebagai pemandu adalah dari Dinas Kelautan dan Perikanan dan PPS/PPN/PPI di Provinsi pelaksanaan kegiatan SLI - Nelayan.
  6. Kunjungan Lapang, dimaksudkan untuk secara langsung melihat alat pengukur unsur cuaca standar dan memperoleh penjelasan lebih lanjut tentang penggunaan alat-alat tersebut, mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya data cuaca/iklim untuk digunakan dalam berbagai sektor kegiatan, menambah wawasan manfaat data unsur cuaca untuk berbagai kegiatan. Adapun tujuannya agar peserta bisa secara langsung melihat dan mengamati berbagai alat pengukur unsur cuaca serta pemeliharaan dan pemanfatannya.
  7. Tindak Lanjut, dimaksudkan untuk mendemonstrasikan dan menampilkan output yang nyata selama peserta mengikuti kegiatan kepada nelayan lainnya dan berbagai pemangku kepentingan. Berbagi pengalaman dan pengetahuan yang didapat kepada nelayan lainnya untuk memfasilitasi adopsi yang lebih luas. Mengembangkan keterampilan mereka dalam mensosialisasikan pentingnya SLI untuk kegiatan perikanan, memperoleh masukan dari PPL Perikanan dan nelayan lainnya serta berbagai pihak untuk lebih meningkatkan modul SLI. Adapun tujuannya agar hasil dari kegiatan SLI yang dilaksanakan dapat diadopsi secara lebih luas dan untuk meningkatkan kemampuan para PPL Perikanan dan nelayan dalam memahami informasi cuaca dan iklim dalam kegiatan perikanan.

Dokumen SLI-Nelayang 2019

  • Modul SLI-Nelayan 2019 (PDF)
  • Panduan SLI-Nelayan 2019 ((PDF)

Materi SLI-Nelayan 2019

  • Pengenalan Unsur Cuaca Dan Iklim (PDF)
  • Memahami Informasi Cuaca dan Iklim  (PDF)
  • Informasi Kelautan Dan OFS BMKG  (PDF)










Read More

10/7/20

Analisis Karakteristik Hujan


 ANALISIS  KARAKTERISTIK HUJAN

UNTUK PENDUGAAN DEBIT ALIRAN RENCANA

SUNGAI  ANAFRI DI KOTA JAYAPURA

Nurfaijin1, Totok Gunawan2, Pramono Hadi3

Jurusan S2 Geografi Fakultas Geografi UGM


ABSTRACT

Anafri River is located in the city of Jayapura is one of the rivers that passes through the sub-distric of Gurabesi distric of North Jayapura and often overflow during heavy rains. Along the banks of the Anafri River in the sub-distric Gurabesi is a fairly dense residential areas so that in the event of flooding from overflowing rivers, the water flooded residential areas. It required steps to be taken to address the emergence of a pool in the residential areas so that losses can be reduced.

This study is to assess the Anafri River capacity to respond diversion diversity of rain into streams. In this study the analysis done to determine the characteristics of the rainfall for determine flow rate using Rational Method to determine the ability of anafri rivers to accommodate flow rates, so that alternative treatment can be determined in flood mitigation. The study was conducted by analyzing the cross capacity of river in stream flood discharge return period of 100 years (130. 001 m3 /second).

The analysis shows bahawa, the runoff on P38 in the event of floods January 14, 2008 as high as ± 0.8 m are known to cause primarily small bank full capacity, then the alternative treatment recommended is the exaltation of the river embankment. The analysis uses flood discharge return period of 100 years shows that, runoff occurs at the location of cross sections with P28 to P38 ± 500 m long segment occurring on either side of the embankment of the downstream direction. Runoff occurs as high as ± 1 m at the left side of the embankment and ± 2 m on the right side of the levee, so the recommended levee elevation is as high as 1 m on the left side and 2 m on the right side of the levee.

Keywords : Rainfall Characteristic, Flow rate, Capacity of River


1.PENDAHULUAN

Sungai Anafri yang terletak di wilayah Kota Jayapura merupakan sungai utama DAS Anafri yang memiliki luas DAS 6.518 km2 dimana bagian hilirnya sepanjang ± 2 km melewati Kota Jayapura. Sungai Anafri memiliki arti penting bagi masyarakat Kota Jayapura yaitu sebagai sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, namun sungai ini sering banjir pada saat terjadi hujan lebat (Tabloid JUBI, 1 April 2009). Sepanjang bantaran Sungai Anafri di Kelurahan Gurabesi merupakan daerah permukiman yang cukup padat sehingga pada saat terjadi banjir air menggenangi permukiman penduduk. Banjir yang hampir setiap tahun terjadi di Sungai Anafri selain akibat proeses alam yaitu adanya hujan lebat, juga disebabkan karena adanya kegiatan perladangan dan penebangan liar di wilayah hulu Sungai Anafri yang merupakan kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclop (Hutajalu, 2010). Mengingat kondisi sungai tersebut, perlu dilakukan langkah-langkah dalam rangka meminimalisir terjadinya bencana banjir akibat meluapnya sungai.

Upaya untuk menanggulangi keadaan tersebut diatas, perlu dilakukan langkah-langkah survei dan analisis terhadap debit aliran sungai. Salah satu bagian dalam upaya penanggulangan bencana banjir akibat meluapnya sungai adalah mengetahui seberapa besar debit puncak yang terjadi akibat turunnya hujan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengukuran debit aliran sungai terutama dalam kaitannya dengan kapasitas sungai dalam merespon pengalih ragaman hujan menjadi aliran permukaan. Debit puncak di suatu lokasi di sungai dapat diperkirakan berdasarkan data hujan dengan menggunakan Metode Rasional (Triatmodjo, 2008). 

Hujan merupakan faktor meteorologis yang merupakan input utama kejadian banjir di suatu wilayah. Karakteristik hujan meliputi ketebalan, intensitas, durasi dan distribusi hujan yang jatuh di suatu DAS. Usaha maksimal terhadap dampak hujan yang dapat dilakukan manusia adalah mengenali karakteristik hujan atas keberadaanya dalam ruang, waktu dan kuantitasnya. Sifat-sifat hujan yang jatuh di suatu DAS akan mempengaruhi karakteritik keluaran, sehingga dipandang sangat penting untuk mengkaji karakteristik hujan suatu daerah (Hadi, 2006). 

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik hujan yakni tebal hujan, intensitas hujan dan lama hujan (durasi) di daerah penelitian, menentukan debit aliran rencana Sungai Anafri di Kota Jayapura berdasarkan Metode Rasional, mengkaji kapasitas Sungai Anafri dalam kaitannya dengan ancaman banjir di Kota Jayapura, dan penentuan alternatif penanganan banjir Sungai Anafri sebagai rekomendasi dalam penanggulangan bencana banjir di Kota Jayapura.


2.METODE PENELITIAN

2.1 Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hujan dari Stasiun Geofisika Angkasapura Kota Jayapura, peta topografi Kota Jayapura, peta jenis tanah Kota Jayapura, Citra Landsat TM resolusi 30 mater tahun 2007, dan data geometri Sungai Anafri. 

2.2 Intensitas Hujan Rencana

Intensitas hujan merupakan ketebalan hujan yang terjadi pada suatu wilayah dalam kurun waktu di mana air tersebut terkonsentrasi. Proses waktu terjadinya hujan dari mulai sampai berhenti hujan sering disebut dengan durasi hujan dalam satuan menit atau jam (Sukadi dan Sudjarwadi, 2005). Analisis hubungan dua parameter karakteristik hujan yang penting berupa intensitas dan durasi hujan dapat dihubungkan secara statistik dengan suatu frekuensi kejadian karakteristik hujan. Penyajian secara grafik hubungan ini adalah berupa kurva Intensity-Duration-Frequency (IDF) (Loebis, 1992). Dalam penelitian ini analisis data hujan untuk penggambaran kurva IDF dilakukan dengan menggunakan Metode Grafis (Okonkwo dan Mbajiorgu, 2010).

2.3 Penghitungan Debit Aliran Rencana

Salah satu metode yang umum digunakan untuk memperkirakan debit aliran rencana yaitu Metode Rasional. Menurut Gunawan (1991), bahwa pendugaan debit puncak dengan Metode Rasional merupakan penyederhanaan besaran-besaran terhadap suatu proses penentuan aliran permukaan yang rumit, akan tetapi metode tersebut dianggap akurat untuk menduga aliran permukaan dalam rancang bangun yang relatif murah, sederhana, dan memberikan hasil yang dapat diterima (reasonable). Adapun persamaan Metode Rasional adalah (Chow, 1988) :


Dimana Q adalah debit aliran (m3/detik), C adalah koefisien aliran, I adalah intensitas hujan (mm/jam), dan A adalah luas DAS (km2). Konstanta 0,278 adalah faktor konversi debit aliran ke satuan (m3/dtk) (Seyhan, 1990). Koefisien aliran (C) yang digunakan dalam Metode Rasional adalah koefisien aliran yang diperoleh dengan menggunakan Metode Cook, sedangkan intensitas hujan yang digunakan diperoleh berdasarkan kurva IDF. Durasi hujan (I) yang digunakan adalah durasi yang sama atau mendekati waktu konsentrasi aliran (tc) yang diperoleh berdasarkan persamaan Kirpich.

2.4 Penghitungan Kapasitas Sungai Anafri

Kapasitas saluran dihitung dengan menggunakan rumus Manning (Purwanto, 2002) :
Dimana V adalah kecepatan aliran rata-rata (m/detik), n adalah koefisien kekasaran Manning, Radalah jari-jari hidraulis (m), S adalah kemiringan permukaan aliran, A adalah luas penampang basah (m2), dan Q adalah debit aliran (m3/detik).

Analisis kapasitas sungai dilakukan untuk mengetahui kapasitas saluran serta lokasi alur sungai yang rawan terjadi luapan akibat banjir dengan menggunakan metode komparasi yaitu membandingkan debit aliran rencana dengan kapasitas saluran pada setiap penampang sungai. Untuk menentukan ketinggian luapan dilakukan dengan membandingkan elevasi muka air banjir dengan elevasi tanggul sungai pada setiap penampang. 

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kondisi dan Analisis Wilayah

Lokasi penelitian merupakan salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang di dalamnya terdapat aliran Sungai Anafri dengan panjang sungai ± 4.2 km dimana ± 2 km melewati Kota Jayapura. DAS Anafri terletak di wilayah Distrik Jayapura Utara Kotamadya Jayapura Provinsi Papua. Secara astronomis DAS Anafri terletak antara 2°31'90" - 2°32'55" Lintang Selatan (LS) dan 140°39'57" - 140°42'28" Bujur Timur (BT). Distrik Jayapura Utara adalah salah satu distrik di wilayah Kotamadya Jayapura yang merupakan jantung Ibukota Provinsi Papua. DAS Anafri memiliki luas ± 6.5 km2 yang mencakup dua kelurahan yaitu Kelurahan Gurabesi dan Kelurahan Bhayangkara. Secara umum DAS Anafri Kota Jayapura dibangun oleh sebagian besar batuan Ultramfik dan batugamping. Batuan utama Ultrmafik adalah serpentinit berwarna abu-abu kehijauan dengan kekerasan sedang, kurang kompak, dan banyak mengandung mineral serpentin (Awi, 2007). Kondisi tanah di wilayah Kota Jayapura berdasarkan Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (2000), Klasifikasi tanah Distrik Jayapura Utara masuk dalam klasifikasi oxisol yang terbuat dari bahan induk plutonik, sub-landform perbukitan volkan dengan relief berbukit. Kondisi tanah merupakan tanah yang telah terlapuk sangat lanjut, bertekstur tanah liat dan daya menahan air kecil. Tutupan lahan (vegetasi) yang terdapat pada DAS Anafri tersusun oleh jenis-jenis lahan hutan, semak belukar, kebun campuran, tanah terbuka, lahan terbangun. Hutan merupakan tutupan lahan terluas yaitu 66.5 % dari luas DAS. 

3.2 Karakteristik Hujan

3.2.1 Ketebalan Hujan

Hasil analisis data curah hujan secara umum menunjukan bahwa curah hujan di DAS Anafri Kota Jayapura banyak terjadi pada bulan Januari-April dan Nopember-Desember. Curah hujan dari bulan Januari-Desember memiliki rata-rata ketebalan hujan minimum sebesar 4.11 mm pada bulan Nopember dan maksimum sebesar 7.95 mm pada bulan Januari. Berdasarkan analisis parameter statistik nilai skewness melebihi angka 0.5 yaitu minimum sebesar 1.64 pada bulan Juni dan maksimum sebesar 5.05 pada bulan Juli. Hal ini menunjukan bahwa distribusi data cenderung mengumpul pada kisaran nilai ketebalan hujan antara 0.1-7.0 mm. Rata-rata intensitas hujan memiliki nilai minimum sebesar 11.67 mm/jam pada bulan Desember dan maksimum sebesar 24.34 mm/jam pada bulan Januari. Besarnya nilai rata-rata tersebut menunjukan bahwa di DAS Anafri Kota Jayapura sering terjadi hujan lebat (10-20 mm/jam). Di samping itu kisaran nilai rata-rata intensitas hujan yaitu 11.67-24.34 mm/jam yang terjadi pada bulan Januari-Desember, menunjukan bahwa pada tiap-tiap bulan sepanjang tahun di Kota Jayapura terdapat kejadian hujan lebat. 

3.2.2 Durasi Hujan

Durasi hujan yang merupakan karakteristik hujan DAS dalam penelitian ini adalah durasi rata-rata. Hasil analisis durasi hujan menunjukan bahwa, durasi hujan rata-rata Kota Jayapura adalah 15 menit (Lampiran 1). Nilai rata-rata durasi hujan tersebut menunjukan bahwa di Kota Jayapura sering terjadi hujan dengan durasi singkat (beberapa menit). 

3.2.3 Intensitas Hujan

Intensitas hujan merupakan jumlah hujan yang dinyatakan dalam ketebalan hujan tiap satuan waktu. Besarnya intensitas hujan berbeda-beda, tergantung dari lamanya kejadian hujan dan frekuensi kejadianya. Hasil penghitungan distribusi probabilitas intensitas hujan disajikan dalam Gambar 1 yang menunjukan histogram dari distribusi probabilitas intensitas hujan. Dalam gambar tersebut absis adalah intensitas hujan yang dinyatakan dalam interval 10.9 mm/jam, sedangkan ordinat adalah probabilitas intensitas hujan.


Peluang terbesar intensitas hujan DAS Anafri Kota Jayapura berdasarkan Gambar 1, terjadi pada kisaran nilai intensitas hujan 22.0 - 32.9 mm/jam dengan probabilitas sebesar 0.399 (40%). Dari hasil analisis durasi hujan diperoleh durasi rata-rata hujan sebesar 15 menit. Hal ini menunjukan bahwa hujan yang sering terjadi di DAS Anafri Kota Jayapura termasuk klasifikasi hujan convective. Menurut Yadnya dan Wijayanti (2008), karakteristik hujan convetive memiliki curah hujan yang tinggi diatas 25 mm/jam dengan durasi yang singkat dan bersifat lokal (cakupannya tertentu). 

3.2.4 Hubungan Karakteristik Hujan

Kurva IDF (Lampiran 2) menggambarkan hubungan antara dua parameter karakteristik hujan yaitu durasi dan intensitas hujan yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk menentukan besarnya intensitas hujan dalam periode ulang tertentu untuk menghitung debit puncak dengan Metode Rasional. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sosrodarsono dan Takeda (2003), yang menyatakan bahwa lengkung IDF dapat digunakan dalam menghitung debit puncak dengan Metode Rasional untuk menentukan intensitas curah hujan rata-rata dari waktu konsentrasi yang dipilih. 

3.3 Debit Aliran Rencana

Debit aliran rencana dihitung berdasarkan parameter intensitas hujan, luas DAS, dan koefisien aliran permukaan.

3.3.1 Intensitas Hujan

Intensitas hujan diperoleh berdasarkan kurva IDF dengan durasi hujan yang sesuai dengan waktu konsentrasi aliran yaitu 25.4 menit. Besarnya intensitas hujan untuk periode ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun masing-masing adalah 61.7 mm/jam, 71.5 mm/jam, 78.9 mm/jam, 82.9 mm/jam, 88.2 mm/jam, 95.8 mm/jam, dan 101.9 mm/jam. 

3.3.2 Luas DAS

Berdasarkan hasil perhitungan, DAS Anafri Kota Jayapura memiliki luas 6.5 km2 . Panjang sungai utama DAS Anafri 4.2 km dengan kemiringan rata-rata 0.146 m/m.

3.3.3 Koefisien Aliran Permukaan

Koefisien aliran DAS Anafri dihitung dengan menggunakan Metode Cook yaitu berdasarkan faktor karakteristik fisik DAS. Faktor karakteristik DAS yang dapat mempengaruhi koefisien aliran yaitu kemiringan lereng, kerapatan aliran, kapasitas infiltrasi, dan tutupan lahan. Dari hasil penghitungan diperoleh nilai koefisien aliran total DAS Anafri sebesar 0.6985 (69.85%) yang menunjukan bahwa hujan yang terjadi di DAS Anafri Kota Jayapura 70% akan menjadi aliran permukaan. 

Besarnya debit aliran rencana untuk periode ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun masing-masing adalah 78.667 m3/detik, 91.162 m3/detik, 100.596 m3/detik, 105.696 m3/detik, 112.454 m3/detik, 122.921 m3/detik, 130.001 m3/detik. 

3.4. Kapasitas Sungai Anafri

Kapasitas saluran didefinisikan sebagai debit maksimum yang mampu ditampung oleh setiap penampang sepanjang sungai. Kapasitas sungai ini, digunakan sebagai acuan untuk menyatakan apakah debit yang direncanakan tersebut mampu untuk ditampung oleh sungai tanpa terjadi peluapan air. Dalam penelitian ini analisis kapasitas sungai dilakukan pada alur Sungai Anafri bagian hilir yang melewati Kota Jayapura dengan panjang alur sungai ± 2 km.

Pengukuran penampang sungai dilakukan pada 5 titik yaitu penampang pada elevasi 9.60 meter (P9), penampang pada elevasi 17.44 meter (P17), penampang pada elevasi 28.00 meter (P28), penampang pada elevasi 32.08 meter (P32), dan penampang pada elevasi 38.20 meter (P38). Penampang P9 merupakan penampang paling hilir dengan jarak ±230 meter dari muara sungai dengan asumsi bahwa lokasi tersebut tidak terpengaruh oleh pasang surut air laut. 

Koefisien kekasaran Manning (n) diperoleh dengan pendekatan visual keadaan saluran pada masing-masing penampang sungai. Berdasarkan hasil pendekatan visual diperoleh nilai koefisien kekasaran saluran pada penampang P28, P32, dan P28 sebesar 0.060. Pada penampang P9 dan P 17 nilai koefisien kekasaran saluran sebesar 0.045. Berdasarkan paramater penampang sungai diperoleh besarnya kapasitas saluran Sungai Anafri pada setiap lokasi penampang seperti dapat dilihat pada Tabel 1.

Peluang terbesar intensitas hujan DAS Anafri Kota Jayapura berdasarkan Gambar 1, terjadi pada kisaran nilai intensitas hujan 22.0 - 32.9 mm/jam dengan probabilitas sebesar 0.399 (40%). Dari hasil analisis durasi hujan diperoleh durasi rata-rata hujan sebesar 15 menit. Hal ini menunjukan bahwa hujan yang sering terjadi di DAS Anafri Kota Jayapura termasuk klasifikasi hujan convective. Menurut Yadnya dan Wijayanti (2008), karakteristik hujan convetive memiliki curah hujan yang tinggi diatas 25 mm/jam dengan durasi yang singkat dan bersifat lokal (cakupannya tertentu). 

3.2.4 Hubungan Karakteristik Hujan

Kurva IDF (Lampiran 2) menggambarkan hubungan antara dua parameter karakteristik hujan yaitu durasi dan intensitas hujan yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk menentukan besarnya intensitas hujan dalam periode ulang tertentu untuk menghitung debit puncak dengan Metode Rasional. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sosrodarsono dan Takeda (2003), yang menyatakan bahwa lengkung IDF dapat digunakan dalam menghitung debit puncak dengan Metode Rasional untuk menentukan intensitas curah hujan rata-rata dari waktu konsentrasi yang dipilih. 

3.3 Debit Aliran Rencana

Debit aliran rencana dihitung berdasarkan parameter intensitas hujan, luas DAS, dan koefisien aliran permukaan.

3.3.1 Intensitas Hujan

Intensitas hujan diperoleh berdasarkan kurva IDF dengan durasi hujan yang sesuai dengan waktu konsentrasi aliran yaitu 25.4 menit. Besarnya intensitas hujan untuk periode ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun masing-masing adalah 61.7 mm/jam, 71.5 mm/jam, 78.9 mm/jam, 82.9 mm/jam, 88.2 mm/jam, 95.8 mm/jam, dan 101.9 mm/jam. 

3.3.2 Luas DAS

Berdasarkan hasil perhitungan, DAS Anafri Kota Jayapura memiliki luas 6.5 km2 . Panjang sungai utama DAS Anafri 4.2 km dengan kemiringan rata-rata 0.146 m/m.

3.3.3 Koefisien Aliran Permukaan

Koefisien aliran DAS Anafri dihitung dengan menggunakan Metode Cook yaitu berdasarkan faktor karakteristik fisik DAS. Faktor karakteristik DAS yang dapat mempengaruhi koefisien aliran yaitu kemiringan lereng, kerapatan aliran, kapasitas infiltrasi, dan tutupan lahan. Dari hasil penghitungan diperoleh nilai koefisien aliran total DAS Anafri sebesar 0.6985 (69.85%) yang menunjukan bahwa hujan yang terjadi di DAS Anafri Kota Jayapura 70% akan menjadi aliran permukaan. Besarnya debit aliran rencana untuk periode ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun masing-masing adalah 78.667 m3/detik, 91.162 m3/detik, 100.596 m3/detik, 105.696 m3/detik, 112.454 m3/detik, 122.921 m3/detik, 130.001 m3/detik. 

3.4. Kapasitas Sungai Anafri

Kapasitas saluran didefinisikan sebagai debit maksimum yang mampu ditampung oleh setiap penampang sepanjang sungai. Kapasitas sungai ini, digunakan sebagai acuan untuk menyatakan apakah debit yang direncanakan tersebut mampu untuk ditampung oleh sungai tanpa terjadi peluapan air. Dalam penelitian ini analisis kapasitas sungai dilakukan pada alur Sungai Anafri bagian hilir yang melewati Kota Jayapura dengan panjang alur sungai ± 2 km.

Pengukuran penampang sungai dilakukan pada 5 titik yaitu penampang pada elevasi 9.60 meter (P9), penampang pada elevasi 17.44 meter (P17), penampang pada elevasi 28.00 meter (P28), penampang pada elevasi 32.08 meter (P32), dan penampang pada elevasi 38.20 meter (P38). Penampang P9 merupakan penampang paling hilir dengan jarak ±230 meter dari muara sungai dengan asumsi bahwa lokasi tersebut tidak terpengaruh oleh pasang surut air laut. 

Koefisien kekasaran Manning (n) diperoleh dengan pendekatan visual keadaan saluran pada masing-masing penampang sungai. Berdasarkan hasil pendekatan visual diperoleh nilai koefisien kekasaran saluran pada penampang P28, P32, dan P28 sebesar 0.060. Pada penampang P9 dan P 17 nilai koefisien kekasaran saluran sebesar 0.045. Berdasarkan paramater penampang sungai diperoleh besarnya kapasitas saluran Sungai Anafri pada setiap lokasi penampang seperti dapat dilihat pada Tabel 1.

3.4.1 Evaluasi Kapasitas Sungai Berdasarkan Debit Aliran Rencana

Hasil perbandingan debit banjir rencana dengan kapasitas saluran Sungai Anafri ( Gambar 2) menunjukan bahwa, lokasi rawan banjir dengan debit Q100 tahun adalah pada lokasi penampang P28-P38 pada alur sungai sepanjang 500 meter. Lokasi rawan banjir dengan debit Q5 adalah pada penampang P32-P38 pada alur sungai sepanjang 300 meter. Lokasi rawan banjir dengan debit Q2 adalah pada penampang P38 yaitu penampang melintang sungai paling hulu. Debit puncak banjir Sungai Anafri pada saat terjadi hujan lebat 14 Januari 2008 sebesar 72.551 m3/detik. Kapasitas saluran Sungai Anafri pada saat menampung debit puncak banjir yang terjadi dapat dilihat pada Gambar 3. Berdasarkan hasil perbandingan debit puncak banjir dan kapasitas saluran pada  setiap penampang, menunjukan bahwa secara umum saluran Sungai Anafri mampu menampung debit banjir kecuali pada lokasi penampang P38. Pada lokasi penampang P38 debit puncak banjir lebih besar dari kapasitas tampungan (72.551 m3/detik > 40.471 m3/detik), sehingga terjadi luapan banjir yang menyebabkan sebagian permukiman di wilayah Kloofkamp Kelurahan Gurabesi tergenang.



3.4.2 Evaluasi Elevasi Muka Air Banjir 

Analisis elevasi muka air banjir dilakukan dengan tujuan untuk menentukan kapasitas sungai berdasarkan elevasi muka air banjir. Elevasi muka air banjir digunakan untuk menentukan tinggi luapan air sungai pada tiap penampang. Suatu penampang sungai dianggap mampu menampung debit banjir, dimana elevasi muka air banjir tidak melebihi tanggul sungai. Dalam penelitian ini, elevasi muka air banjir dihitung berdasarkan debit aliran menggunakan persamaan yang diturunkan dari tiap penampang sungai. 

Hasil analisis kondisi penampang melintang sungai pada saat terjadi banjir 14 Januari 2008 dapat dilihat pada Tabel 2.


Hasil analisis pada Tabel 5.17 menunjukan bahwa, lokasi penampang Sungai Anafri yang tidak mampu menampung debit banjir adalah pada penampang P38. Luapan air banjir terjadi pada tanggul sisi kanan alur sungai dengan tinggi luapan 0.8 meter. 

Elevasi muka air banjir yang dihitung berdasarkan debit aliran rencana dapat dilihat pada Lampiran 3. Hasil analisis elevasi muka air banjir menunjukan bahwa, luapan air banjir Sungai Anafri pada saat terjadi hujan lebat terjadi pada tanggul sisi kiri dan kanan alur sungai. Luapan pada tanggul sisi kiri terjadi pada lokasi penampang P32-P38. Debit aliran yang menyebabkan terjadinya luapan pada tanggul sisi kiri adalah debit aliran rencana periode ulang 5 tahun dan 100 tahun. Tinggi luapan pada tanggul sisi kiri adalah 0.1 meter sampai 1 meter. Luapan pada tanggul sisi kanan terjadi pada lokasi penampang P28-P38. Debit aliran yang menyebabkan terjadinya luapan pada tanggul sisi kanan adalah debit aliran rencana periode ulang 2 tahun dan 100 tahun. Tinggi luapan pada tanggul sisi kanan adalah 0.2 meter sampai 2 meter. Lokasi luapan banjir dapat dilihat pada Lampiran 4.

3.4.3 Penanganan Banjir Sungai Anafri

Berdasarkan hasil analisis dengan debit periode ulang 100 tahun, bahwa luapan banjir Sungai Anafri terjadi pada penggal 1300-1800 meter dari hilir yaitu pada lokasi penampang P28-P38. Hal ini secara umum disebabkan oleh kondisi kapasitas maksimum sungai yang sangat kecil yaitu antara 40.471 m3/detik sampai 128.292 m3/detik, sehingga akan terjadi luapan jika debit banjir dari hulu melebihi kapasitas tampungannya. Kondisi kapasitas tampungan yang kecil, selain disebabkan karena tanggul sungai yang tidak terlalu tinggi juga disebabkan karena adanya penyempitan badan sungai. Penyempitan badan sungai diakibatkan oleh aktifitas manusia di bantaran Sungai Anafri yang membangun permukiman sampai ke badan sungai seperti pada Gambar 4.


Di samping itu, berkurangnya kapasitas sungai disebabkan banyaknya tumpukan sampah di sepanjang alur Sungai Anafri maupun bangunan bekas tiang jembatan yang terdapat di antara penampang P32 dan P38 alur sungai seperti pada Gambar 5. 


Untuk meminimalisir terjadinya banjir akibat meluapnya Sungai Anafri dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1.  Penanganan banjir di Sungai Anafri dengan langkah teknis
Berdasarkan hasil analisis banjir dengan debit periode ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 25 tahun, 50 tahun dan 100 tahun, luapan terjadi pada penggal 1300-1800 meter dari hilir yang merupakan wilayah permukiman. Dengan kondisi seperti ini, maka penanganan banjir Sungai Anafri dilakukan untuk program jangka pendek, karena hampir setiap tahunnya terjadi luapan air banjir. Alternatif penanganan yang dipakai adalah penanggulangan dengan debit periode ulang 10 tahun (Q10 = 100.596 m3/detik) atau debit periode ulang 100 tahun (Q100 = 130.001 m3/detik). Untuk debit periode ulang 2 tahun tidak dilakukan karena debit rencana untuk penanggulangan drainase kota debit rencana minimumnya adalah debit periode ulang 5 tahun (Rahmawati, 2010).

 

Berdasarkan analisis penyebab banjir Sungai Anafri, limpasan yang terjadi pada penggal alur sungai 1300-1800 meter dari hilir ( Penampang P28-P38) diakibatkan karena kapasitaas sungai yang terlalu kecil sehingga perlu dilakukan upaya untuk memperbesar kapasitas sungai. Alur sungai yang rawan terhadap terjadinya luapan air sungai memiliki panjang penggal relatif kecil yaitu 500 meter, sehingga upaya untuk memperbesar kapasitas pengaliran alur sungai dapat dilakukan dengan peninggian tanggul pada penggal alur sungai yang rawan terhadap terjadinya luapan. Peninggian tanggul dilakukan untuk mencegah meluapnya banjir sampai ketinggian tertentu. Dalam peninggian tanggul Sungai Anafri dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  • Peninggian tanggul berdasarkan debit banjir Q10
Kondisi penampang Sungai Anafri pada saat terjadi debit banjir periode ulang 10 tahun dengan debit sebesar 100.596 m3/detik, luapan terjadi pada lokasi penampang P32 yang memiliki elevasi tanggul pada sisi kiri 35 meter dan tanggul pada sisi kanan 34.4 meter. Elevasi muka air banjir pada lokasi penampang P32 adalah 34.6 meter, sehingga langkah penanggulangan dapat dilakukan dengan peninggian tanggul pada sisi kanan minimal 0.2 meter. Pada lokasi penampang P38 memiliki elevasi tanggul sungai pada sisi kiri 41 meter dan tanggul pada sisi kanan 40 meter. Elevasi muka air banjir pada penampang P38 adalah 41.4 meter, sehingga langkah penanggulangan dapat dilakukan dengan peninggian tanggul pada tanggul sisi kiri minimal 0.4 meter dan peninggian tanggul pada sisi kanan minimal 1.4 meter. 

  • Peninggian tanggul berdasarkan debit banjir Q100
Kondisi penampang Sungai Anafri pada saat terjadi debit periode ulang 100 tahun dengan debit sebesar 130.001 m3/detik, luapan terjadi pada lokasi penampang P28, P32, dan P38. Lokasi penampang P28 memiliki elevasi tanggul pada sisi kiri 31 meter dan tanggul pada sisi kanan 30.7 meter. Elevasi muka air banjir 30.9 meter, sehingga langkah penanggulangan dapat dilakukan dengan peninggian tanggul pada sisi kanan minimal 0.2 meter. Pada penampang P32 memiliki elevasi tanggul sungai pada sisi kiri 35 meter dan tanggul pada sisi kanan 34.4 meter. Elevasi muka air banjir pada penampang P32 adalah 35.1 meter, sehingga langkah penanggulangan dapat dilakukan peninggian tanggul pada tanggul sisi kiri minimal 0.1 meter dan pada tanggul sisi kanan minimal 0.7 meter. Pada lokasi penampang P38 memiliki elevasi tanggul sungai pada sisi kiri 41 meter dan tanggul pada sisi kanan 40 meter. Elevasi muka air banjir pada penampang P38 adalah 42.0 meter, sehingga langkah penanggulangan dapat dilakukan peninggian tanggul pada tanggul sisi kiri minimal 1 meter dan pada tanggul sisi kanan minimal 2 meter. 

Peninggian tanggul dalam rangka penanggulangan terjadinya limpasan banjir dengan debit Q10 dan Q100 tahun, memiliki selisih peninggian tanggul yang relatif kecil yaitu sebesar 0.4 meter. Sehingga dalam rangka penanggulangan banjir Sungai Anafri, langkah pananggulangan banjir sebaiknya menggunakan debit Q100 tahun. Peninggian tanggul dilakukan pada alur sungai di lokasi penampang P28-P38 sepanjang kurang lebih 500 meter dengan peninggian tanggul pada sisi kiri minimal 1 meter dan pada tanggul sisi kanan minimal 2 meter.

2. Penanganan banjir di Sungai Anafri dengan pendekatan non teknis

Penanganan banjir di Sungai Anafri untuk perencanaaan jangka pendek dengan debit periode ulang 100 tahun (Q100) yaitu sebesar 130.001 m3/detik. Upaya penanganan banjir dengan pendekatan non teknis adalah :

  • Perlunya penegakan hukum dalam pengelolaan lahan terutama bagian hulu DAS Anafri, tidak boleh ada kegiatan perladangan maupun penebangan liar. Wilayah DAS Anafri bagian hulu merupakan kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclop. Menurut Hutajalu (2010), kegiatan perladangan yang terjadi di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclop (CAPC) yang masuk dalam wilayah Kota Jayapura antara lain kelurahan Angkasapura, dan Bhayangkara, sedangkan kegiatan penjarahan dan penebangan kayu antara lain wilayah Kloofkamp, Angkasapura, dan Bhayangkara. Wilayah Angkasapura maupun Kloofkamp merupakan wilayah tangkapan air DAS Anafri.
  • Perlunya pemahaman terhadap masyarakat untuk memelihara kondisi sungai yang memiliki fungsi sebagai tampungan air saat terjadi hujan lebat. Selama ini masyarakat masih menganggap bahwa sungai merupakan tempat pembuangan segala jenis limbah baik padat maupun cair. Sungai Anafri memiliki fungsi ganda, di samping sebagai tempat penampungan air hujan juga sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga. Hal ini terbukti dengan banyaknya sampah yang menumpuk di sepanjang alur sungai.

3.HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Karakteristik hujan di wilayah DAS Anafri Kota Jayapura cenderung terjadi dengan intensitas tinggi dan dalam durasi yang pendek. Ketebalan hujan pada kisaran 0.1 mm sampai 7.0 mm dengan intensitas hujan pada kisaran 21.0 mm/jam sampai 32.9 mm/jam yang terjadi dalam durasi rata-rata 15 menit. Hujan yang terjadi sangat tergantung terhadap faktor lokal yaitu kondisi topografi pada elevasi sedang hingga tinggi (>10 meter diatas permukaan laut) dan tidak terpengaruh fenomena cuaca pada skala messo. Hal ini menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi terjadi sepanjang tahun yaitu Januari-Desember. 
  2. Pada saat terjadi hujan lebat di wilayah DAS Anafri, hujan yang terjadi 70% akan menjadi aliran permukaan yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan debit Sungai Anafri. Debit aliran rencana Sungai Anafri pada periode ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun masing-masing sebesar 78.667 m3/detik, 91.162 m3/detik, 100.596 m3/detik, 105.696 m3/detik, 112.454 m3/detik, 122.144 m3/detik dan 130.001 m3/detik.
  3. Kapasitas Sungai Anafri sebagian besar masih mampu menampung debit banjir. Wilayah rawan banjir akibat meluapnya sungai terjadi pada lokasi penampang P28, P32, dan P38 sepanjang 500 meter yaitu pada penggal 1300-1800 meter dari hilir tepatnya di wilayah permukiman Kloofkamp Kelurahan Gurabesi. Tinggi luapan banjir pada tanggul sisi kiri ± 1 meter dan pada tanggul sisi kanan ± 2 meter. 
  4. Dalam upaya penanggulangan terjadinya banjir akibat meluapnya Sungai Anafri perlu dilakukan peninggian tanggul pada area rawan banjir sepanjang 500 meter yaitu pada penggal alur sungai 1300-1800 meter dari hilir dengan penambahan tinggi tanggul sungai pada sisi kiri minimal 1 meter dan tangul sisi kanan minimal 2 meter. 


















Read More

10/5/20

Anomali Suhu Muka Laut Dan Curah Hujan Di Jawa




Suhu permukaan laut adalah suhu pada ketinggian milimeter di atas permukaan laut. Anomali suhu permukaan laut adalah perbedaan suhu laut di suatu lokasi pada waktu tertentu dengan suhu normal tempat itu.

Pola Curah Hujan Di Jawa
Curah hujan di Jawa memiliki pola tahunan satu kali maksimum pada bulan DesemberNopember dan satu kali minimum pada bulan Juni-Agustus seperti diperlihatkan pada Perubahan dari musim kemarau menuju musim hujan terjadi pada bulan September-Nopember. Pengaruh El Nino/Index osilasi selatan terhadap curah hujan di Jawa paling tinggi terjadi pada bulan September-Nopember yang merupakan masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan.

Curah hujan di Jawa sangat berkaitan dengan perubahan anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian timur dan tengah sekitar daerah equator serta anomali suhu permukaan laut di Laut Flores. Ketika di Samudera Pasifik terjadi anomali positif (EL Nino) curah hujan di Jawa mengalami penurunan. Sebaliknya bila terjadi anomali negatif (La Nina) curah hujan di Jawa meningkat. Hal ini terjadi pada bulan September – Nopember. (Erwin Mulyana : Hubungan antara anomali suhu permukaan laut dan curah hujan di Jawa).

Perubahan Musim
Jawa sangat dipengaruhi oleh suhu permukaan laut di Laut Flores, yaitu ketika suhu permukaan laut di daerah tersebut meningkat curah hujan di Jawa juga meningkat. Sebaliknya bila terjadi penurunan suhu permukaan laut maka curah hujan di Jawa akan berkurang. 

Bulan September-Nopember, pengaruh suhu permukaan laut di Laut Flores terhadap curah hujan di Jawa tidak sekuat pada bulan JuniAgustus. Pada periode ini, yang paling mempengaruhi curah hujan di Jawa adalah di Samudera Pasifik sekitar equator yaitu ketika suhu permukaan laut di daerah tersebut menurun, curah hujan di Jawa akan meningkat, sebaliknya bila suhu permukaan laut meningkat maka curah hujan di Jawa akan berkurang. Untuk periode Desember-Januari, tidak terlihat pengaruh anomali suhu permukaan laut yang signifikan terhadap perubahan curah hujan di Jawa. Hal yang sama dengan  pada periode selanjutnya (Maret-Mei).







Read More

Teori Pemicu El-Nino dan La-Nina


Penyebab Fenomena laut Samudra Pasifik Berpengaruh Di Wilayah Indonesia


El Nino merupakan fasa panas dari suatu osilasi raksasa. La Nina merupakan fasa dingin dari suatu osilasi raksasa yang ditandai dengan anomali suhu muka laut negatif di daerah Pasifik Tengah sekitar ekuator. El Nino ditandai oleh anomali suhu muka laut positif di Samudera Pasifik. 

Kata El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti bayi Kristus. Kata El Nino dipakai oleh nelayan Peru  sejak abad ke-19 sebagai nama arus laut yang hangat di perairan lepas pantai Peru yang bergerak ke selatan. Arus ini biasanya terjadi pada bulan Desember sekitar Natal.Sedangkan La Nina yang berarti bayi perempuan.

Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan pemicu El-Niño dan La-Niña adalah :
  1. Melemahnya angin passat di daerah Pasifik yang berkaitan dengan osilasi selatan. Melemahnya angin passat menyebabkan kolam hangat yang terkumpul di bagian tengah Samudera Pasifik bergerak ke arah timur Samudera Pasifik. 
  2. Aktifitas konveksi tropis di lautan Hndia dan terjadinya badai yang kuat. Aktifitas ini harus berlangsung minimal selama satu bulan. Oleh karena badai tropis ini bersifat geostropik, maka angin yang ditimbulkan di sekitar ekuator selalu bertiup ke arah timur. 
Jika badai ini cukup kuat atau berlangsung cukup lama, maka angin baratan ini cukup kuat untuk memicu El Nino. Saat terjadi La Nina, angin passat kuat dan pusat konvergensi sirkulasi Walker bergeser ke arah barat di daerah Indonesia dan sekitarnya. Akibatnya di daerah Indonesia, Australia, Papua Nugini, Selandia Baru, Brasil, Cina, India, Afrika Selatan dan Afrika Timur, hujan meningkat melebihi kondisi normalnya. Sedangkan di Pasifik Tengah dan Timur, Amerika Utara dan Amerika Selatan bagian subtropis dan sekitar pantai Peru, badai dan hujan berkurang, kondisi El Nino merupakan kebalikan dari kondisi La Nina. 

Sumber Gambar: rimbakita.com

Hal ini dapat dijalaskan bahwa  mengapa fenomena lautan yang terjadi di Samudera Pasifik berpengaruh terhadap kondisi  cuaca dan curah hujan di Indonesia yaitu karena adanya Sirkulasi Walker yang berputar sejajar dengan garis khatulistiwa. Sirkulasi Walker terjadi akibat dari gaya gradien tekanan yang berasal dari satu area tekanan udara tinggi di wilayah timur Samudera Pasifik dan satu area tekanan udara rendah di wilayah archipelago Indonesia.

Anomali Suhu Muka Laut






Read More

10/3/20

Islam Nusantara

Recent Posts Label

 

Ilustrasi Gamabr : fb Al Faqir Rohmatullah

🌠ISLAM NUSANTARA🌠


1.ISLAM NUSANTARA adalah ,
hasil ijtihad Ulama sebagai upaya untuk mengembalikan
Ahlu Sunnah Waljama'ah kepada esensi dasarnya,yaitu Islam yang Rohmatan lil'alamiin.

2.ISLAM NUSANTARA adalah ,
sebagai upaya untuk memilih dan memisahkan antara Ahlu
Sunnah Waljama'ah yang benar benar di akui
dengan yang hanya sekedar pengakuan belaka.

3.ISLAM NUSANTARA adalah ,
Sebagai upaya untuk menjaga kemurnian Islam Ahlu Sunnah Waljama'ah dari upaya golongan kaum yang ingin menodai dan merusak Islam dengan
sikapnya yang Intoleran dan Radikalis.

4.ISLAM NUSANTARA adalah ,
bukan Firqoh atau Manhaj.
tetapi ISLAM NUSANTARA adalah Umat Islam yang berkarateristik NUSANTARA,yaitu :

- ISLAM SANTUN
- ISLAM RAMAH
- ISLAM WASATHON
- ISLAM YANG TAWAZZUN
- ISLAM YANG I'TIDAL
- ISLAM YANG TASYAMMUH
- ISLAM YANG MENJAGA NILAI NILAI BUDAYA YANG TIDAK BERTENTANGAN DENGAN ISLAM.

- ISLAM YANG ROHMATAN LIL'ALAMIIN.
yang ber ISLAM yang mengikuti Firqoh atau
Manhaj Ahlu Sunnah Waljama'ah yang dalam BERISLAM mengikuti salah satu dari 4 Imam
madzab yang ada,yaitu :
1.IMAM SYAFI'I.
2.IMAM MALIKI.
3.IMAM HANBALI.
4.IMAM HANAFI.
yang dalam ber ISLAM bersikap puralis,
yang sangat menghormati perbedaan dan keberagaman.

PURALIS yang dimaksud disini adalah sebagaimana yang di jelaskan oleh GUSDUR yaitu ,
INDONESIA ini di ibaratkan sebuah
rumah besar yang terdiri berbagai banyak kamar yang didalamnya disetiap kamar dihuni oleh pemeluknya masing masing agama dan kepercayaan yang di yakini masing masing pula di Indonesia.
Dikamar tersebut boleh bebas bertindak sesuai aturan kamarnya masing masing,namun ketika keluar dari kamar dan berkumpul di dalam ruang keluarga,semua harus tunduk pada kesepakatan bersama.

INDONESIA adalah rumah besar itu yang
di bentuk oleh para pendahulu Bangsa dengan
kebesaran hati.
INDONESIA tidak bisa di ubah tata
ke- hidupannya dengan aturan dari satu
kamar saja.ada kamar ISLAM,ada kamar HINDU, ada kamar BUDHA, ada kamar, KATHOLIK, ada kamar KEJAWEN,itu semua biarkan saja.

Tetapi ketika kita ketemu
di lapangan per-juangan, politik, kenegaraan bernama INDONESIA kita harus bersama.
Itulah yang di sebut GUSDUR sebagai PURALIME.

Demikian penjelasan tentang
ISLAM NUSANTARA, dan apabila masih ada yang menyelisihi tentang ISLAM NUSANTARA silahkan kekantor NAHDHOTUL ULAMA anda yang terdekat atau buat persepakatan diskusi ilmiah tentang yang anda perselisihkan.

Semoga bermanfa'at.
Sumber :Al Faqir Rohmatullah
Hosting Unlimited Indonesia
Read More

10/2/20

Kabur Dari Sekolah

 


Pada saat aku duduk di kelas 6 SD, waktu itu hari sabtu sebelum jam istirahat pertama guru wali kelas 6 Pak Kadir sempat mengumumkan akan datang seorang mantri kesehatan. ("Pak kadir : nanti setelah istirahat ada mantri kesehatan jadi setelah istirahat tidak ada belajar, tolong jangan ribut"), bgitu kata beliau pak Kadir.

Setelah istirahat ada seorang temenku bernama Ponidi (pangilanya debleng) bilang ke teman-temannya  namanya warso, Roni (ketua kelas) dan Khozin :

 

Ponidi    : " Eh War....... tahu nggak mantri kesehatan mau ngapain......"

Warso    :" Emang mau ngapain....."

Ponidi    : " Biasanya mau nyuntik yang di pundak, dan nyuntiknya gak seperti biasanya kalo di pundak..."

Khozin : "Iya kata kakaku dulu pernah begitu, dan bekasnya sebesar kulit kacang tanah....."

Ponidi :" Ron apa kita kabur saja......?"

Roni : " Iyae....kakaku dulu aja sampai nangis....."

Warso : " Ehmmmmm......mending kita kabur saja...."

Roni : " Ingat....tapi kita kabur ya mending kabur semua....."


Akhirnya pada saat jam istirahat kita sepakat kabur dari sekolah tanpa membawa buku dan tas.Semua kabur tanpa kecuali dari 41 siswa baik laki maupun perempuan (laki-laki ada 19 siswa dan perempuan ada 22 siswa) termasuk putrinya pak Kadir bernama Iin ikut juga kabur..... (wah, wah, wah, wah, mantap tenan). 

Sebagian perempuan kabur pulang ke rumah masing-masing dan yang laki-laki kabur ke sungai sekalian bawa alat pancing ikan dan kebetulan ada salah satu temen namanya Waris yang punya kebun jagung deket sungai, akhirnya kita mancing sambil bakar jagung. Lokasi tempat bakar jagung sekitar 3 km dari sekolahan. 

Pada saat sedang asyik mancing dan bakar jagung tiba-tiba dari jauh terdengar suara "oooiiiiiiiiii pulang.....!!!!!!!!!!!!", tanpa komando kita lari semua dan semua ditinggalkan yaitu alat pancing dan jagung bakar yang saat itu belum ada yang selesai dibakar. Saaat itu yang pertama lari adalah Ponidi dan akhirnya kita ikut semua kemana arah Ponidi lari.

Setelah lari dan dilokasi persembunyian yang dirasa aman waktu itu sembunyi di bawah jembatan gantung yang menghubungkan desa Pundimas dengan desa Wingit. Terjadi perbincangan antar kita :

Roni : " Pon ngapa kamu lari ?????!!!!!!!!"
Ponidi : " Tadi denger gak ada orang teriak kita di suruh pulang... saya paham betul itu suaranya pak Ilham (Pak Ilham adalah seorang tukang kebun sekaligus penjaga sekolah )"
Aku (Affan) : " Berarti kita lagi di cari ni.... kemana lagi kita ngumpet..."

Akhirnya semua terdiam, sekitar 30 menit kita di bawah jembatan gantung dan semua membisu. (pembaca yang budiman aku ikut kabur karena aku juga takut disuntik hehehehe). Sesekali kita melihat orang sedang jalan kaki menyeberang melalui jembatan gantung. 

Tiba-tiba terdengar suara dari atas jembatan orang menegur kita semu. Setelah kita lihat siapa yang teriak negur kita, ternyata seorang hansip kampung Dukuh. Ternyata kita kabur,  sekolah melaporkan ke hansip kampung Dukuh.....(uwedaaannnnn tenan). Kita kenal hansip tersebut adalah pak Badrun dan termasuk orang yang disegani juga karena beliau adalah Polisi Desa (Poldes) Pundimas. 

Kita sepakat untuk naik, setelah sampai diatas jembatan tak disangka disitu sudah ada pak Kadir, pak Ilham dan juga kepala sekolah yaitu pak Imron. Tanpa banyak bicara dengan nada marah pak Imron bilang :

"Pokoke semua kembai ke sekolah, yang tidak mau kembali ke sekolah jangan harap tahun ini kalian bisa lulus !!!!!!!!!!!!!!!!!". (Apeeeeeeeeesssssssssssssss ternyata tukang karcis jembatan gantung yang ngasih tahu kalo ada segorombolan anak-anak pake seragam pramuka di bawah jembatan gantung). 

Akhirnya semua kembali ke sekolah tanpa kecuali dan kita masuk kelas, selang  beberapa lama kepala sekolah yaitu pak Imron masuk sambil bawa stick yang biasa dipake untuk nunjuk di papan tulis. Dengan nada membentak beliau berkata :

Pak Imron : "Siapa yang suruh kalian kabur dari sekolah !!!!!!!!!!!!!!.....Jawab...!!!!!!!!!!!!!!"
Tak satupun ada teman-teman yang berani menjawab termasuk aku. Kemudian masih dengan nada marah pak Imron berkata :
Pak Imron : " Sekarang urut absen satu persatu dari absen pertma ke ruang kepala sekolah.....cepat!!!!!"

Dalam hati kita bertanya tanya suruh ngapain ya.......??????. Kebetulan absen pertama seorang perempuan bernama Ani Zaitun. Aku lihat Ani jalan keluar kelas menuju ruang kepala sekolah dengan aura bingung, takut dan lain-lain. 

Kurang lebih 5 menit Ani Zaitun kembali ke kelas dengan wajah seperti habis menangis salah seorang temannya berna Bariyah bertanya :

Bariyah : " Tun suruh ngapain.....????? dimarahin ya....."
Ani Zaitun : "Engga Bar.....ternyata disuntik....."

Spontan teman sekelas merah semua wajahnya tanda ketakutan. (Bussseeeeeet udah dibelain kabur, lari-lari menyusuri sungai, ternyata mantri kesehatan si tukang suntik masih nungguin di sekolah....Apppeeesssssss. 

Sampailah giliranku, dengan rasa hati bercampur aduk mau gak mau aku juga harus ke ruang kepala sekolah dan langsung menuju tempat duduk yang sudah disiapkan. Si tukang suntik dengan santai memamerkan  jarum suntiknya...... njriiiiiit ternya benar sakitnya lumayan walaupun hanya beberapa menit. Tapi aku jadi berfikir kenapa kita harus kabur?....hmmmm terbayang dengan jarum suntik. Karena waktu juga udah siang setelah selasai semua kita diperbolehkan untuk pulang kerumah masing-masing. 

Sesampainya di rumah, aku di interogasi sama ibuku dengan berbagai pertanyaan, sambil tangan ibuku pegang telingaku. Intinya hampir semuanya dimarahin sama orang tuanya karena kabur dari sekolah apalagi lari menyusuri sungai dan saat itu udah menjelang ujian kelulusan.  Semua orang tahu sungai itu dalam dan cukup deras airnya dengan lebar sungai sesuai yang tertulis dipondasi jembatan adalah 48 meter. 

Sulastri Anak Pedagang Sayur

 


 























Read More

Aku dan Masa Kecilku

Masa Kecilku


Desa Pundimas tepatnya kampung Dukuh adalah sebuah kampung yang jauh dari kota sekitar 2 km ke jalan yang sudah beraspal, dan banyak pohon bambu yang masih mendominasi disekitarnya. Ada sebuah rumah yang lokasinya teramat sepi banyak pohon bambu, dekat dengan pemakaman umum bahkan tergolong rumah paling pinggir karena dekat dengan sungai Blimbing dengan tebing yang curam.

 

Saat kemarau tiba kebanyakan orang memanfaatkanya untuk mandi, cuci dan lain-lain karena masih tergolong bersih dan jernih airnya, Apalagi di sisi tebing banyak mata air yang sangat layak untuk air minum. Sebenarnya bisa saja mereka menggunakan air sumur namun dalam kapasitas yang sedikit karena volume air jelas berkurang.


Sebuah rumah di daerah yang sangat sepi jauh dari hiruk pikuk kota di kampung Dukuh desa Pundimas ada sepasang suami istri yaitu Ridun dan Asmi. Adalah seorang petani yang kehidupanya hanya mengandalkan hasil tani yaitu padi, jagung, singkong dan pedagang tembakau di berbagai lokasi setiap hari pasaran untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Ridun dan Asmi dikaruniai empat orang anak perempuan yaitu  Mba Ani, Mba Annisa, Mba Munah dan Mba Siti. 

 

Dari pasangan Ridun dan Asmi konon tepatnya 10 November 1975 jam 10 pagi lahirlah seorang anak laki-laki yaitu AKU. Pada saat aku dilahirkan orang tua dari Asmi (Ibuku) masih ada yaitu Mbah kakung Sulaiman dan Mbah putri Mursiah. Sedangkan orang tua dari Ridun (Ayahku) yaitu Raden Wikarno dan istrinya Sutari sudah tidak ada dan konon kabarnya Mbah Raden Wikarno dibawa orang Jepang hingga tiada kabar beritanya. 


Dari Mbah Raden Wikarno Dan Mbah Sutari dilahirkan dua orang anak yaitu Maemunah (Bude) dan Ridun (Ayahku). Suami Bude Maimunah adalah seorang Ulama dari paham Ahlusunnah Waljamah yaitu KH. Ilyas Maksum.

 

Ketika kedua orang tua dari Ayahku tiada ayahku ikut kakaknya yaitu bude Maimunah. Dari suami bude Maimunah itulah setelah aku lahir aku di beri nama AFFAN. 


Aku hidup dengan ayahku, ibuku ke empat mba ku dan mbah ku (mbah sulaiman dan mbah putri mursiah) karena rumah orang tuaku berdampingan dengan mbah ku. Aku hidup sangat bahagia apa yang aku minta selalu dituruti apalagi saat itu mbahku adalah orang terpandang di kampung Dukuh desa Pundimas bahkan satu-satunya orang yang memiliki sepeda ontel se desa Pundimas saat itu hehehe.....

 

Umur 5 tahun aku masuk sekolah Taman Kanak-Kanak (TK Aisyiah) di desa Pundimas. Sejak TK aku sudah belajar puas ramadhon penuh sebulan. Bahkan dalam tradisi keluargaku dulu setiap minggu terakhir dalam bulan berjalan semua keluargaka puasa penuh seminggu selain puasa senin dan kamis.


Setelah genap seminggu berpuasa pas kakak-kakaku libur  sekolah sekeluarga jalan-jalan ke kota makan-makan, kadang dibelikan baju baru,  kadang sekeluarga silaturahim ke saudara pokoknya hampir mirip setelah puasa bulan ramadan. 

 

Yang paling aku senang karena transportasinya adalah Dokar, bahkan selalu pake dua Dokar dan sering bercanda, bahkan suka balapan. Aku selalu duduk di samping kusir dan kusirnya baik namnya pak Aryo dan aku boleh pegang pecutnya hehehe......


Orang tuaku dan mbahku sangat sayang sama aku bahkan saat itu aku masih TK dan pada saat itu bulan Ramadan hari ketiga mbahku mbah kakung bertanya :

 

Mbah Kakung : " Fan apa kamu masih kuat puasa terus ini masih jam 10 pagi?"

Aku : "Masih kuat mbah"

Mbah Kakung : "Bener Fan....?"

Aku : "Bener Mbah...."

Mbah Kakung : " Fan....."

Aku : "Dalem Mbah....."

Mbah Kakung : " Fan Kalo kamu kuat puasa sampai lima hari...pokoke mbah blikan sepeda...."

Aku :"Bener Mbah....."

Mbah Kakung :" Bener Fan....Pokoke Mbah Janji...."

 

Puasa hari kelima bulan Ramadan saat itu masih jam 2 siang, mbahku mengajak aku ke kota dan ternyata benar aku dibelikan sepada. Aku sangat senang dibelikan sepeda sama mbah kakung. 


Tiap hari aku main dengan teman-temanku bergantian aku boncengin karena saat itu di kampung Dukuh hanya aku yang memiliki sepeda. 

 

Terkadang aku sangat tergoda karena teman seusiaku yang main dengan aku hanya aku yang berpuasa. Tapi Alhamdulillah aku tetap berpuasa sampai tiba waktunya berbuka puasa.

Mbah kakung sangat perhatian sama aku, bahkan bliau pernah bilang: " aku kalo pergi-pergi kalo gak bawa uaang kecil gak tenang, karen takut si Affan (aku) liat pasti ngejar minta uang...." hehehe......

memaang benar dimanapun kalu aku main ketemu mbah kakung pasti aku teriak : "Mbaaaaah....minta uang.....!!!!!?????" dan alhamdulilah udah pasti dikasih langganannya 25 rupih.....hehehe......


Usia 6 Tahun yaitu 1981 aku didaftarkan di Sekolah Dasar Negeri 1A Pundimas sekitar 3 km jaraknya dari rumah. Saat itu di desa Pundimas hanya ada dua Sekolah Dasar yaitu SDN 1A Pundimas dan SDN 1B Pundimas, padahal gedung sekolahanya hanya satu. Anak kelas 1 dan kelas 2 masuk pagi terus, sedangkan kelas 3 sampai kelas 6 bergantian pagi dan siang.

 

Guru wali kelas pertamaku Bu Siti Asiyah, bliau wali kelas 1A, karena saat itu kelas 1 ada 11 kelas yaitu kelas 1A samapai kelas 1K SD 01 Pundimas. Bu Siti Asiyah orangnya sangat sabar dan seingatku tidak pernah marah dalam mendidik anak-anak di sekolah. 

Tiap pergi ke sekolah jalan kaki menyusuri sungai ramai-rami bersama mba Siti (kakaku) yang baru kelas 2 SD dan juga temen-temen yang lain dari kampung Dukuh karena sama-sama masuk pagi, sedangkan mbakyuku yang lain masuk siang. Ketika pulang sekolah seringnya di jemput ayahku dengan Scooter Favoritnya. Aku berdiri didepan mbak Siti duduk di jok belakang.

 

Tiap hari aku diberi uang jajan 50 rupiah berdua dengan mbak Siti karena yang pegang uang mbak Siti jadi setiap istirahat aku cari mbak Siti. Aku selalu jajan bareng sama mbak Siti dan mbak Siti selalu nurut sesuai seleraku kalu mau jajan. Jajanan favoritku yaitu lanting segepok, pecel plus ketupat  dan sempe leo dapat lima lebar....hehehe..... 


Setiap libur kwartal  Aku harus ke tempat budeku untuk belajar agama dengan Pak De ku yaitu KH Achmad Suyuti yang bertempat tinggal di Kabupaten Purbayasa tepatnya di desa Kutawaringin. Di situ aku dididik pengetahuan agama termasuk belajar menghafal surat pendek dalam Juz 'Amma. Dan ini wajib setiap libur kwartal sehingga setiap libur kwartal aku selalu mengaji di Kutawaringin.

 

Setelah naik kelas 2 aku di pindah ke SDN 2 Pundimas atas perintah kepala Desa untuk pembagian siswa karena baru dibangun SD Inpres 02 Pundimas yang lokasinya sekitar 2 km dari rumah tempat tinggal aku. Pada saat itu pemerintah membangun gedung SD Iinpres di dua lokasi yang satunya SD Inprer 02 Pundimas dan SD Inpres 03 Pundimas.

 

Pada saat aku duduk di kelas 2 SD mbah kakung sering sakit bahkan hampir sebulan mbah kakung sudah tidak bisa apa-apa hanya di tempat tidur saja yang pada akhirnya jam 04.11 wib mbah kakung pergi meninggalkan kita untuk selamanya (inna lilahi wainna ilaihi raji'uun), semoga bliau diterima amal baiknya dan di tempatkan di sisNya ditempat yang terbaik...Aamiin.


Kurang lebih 3 bulan setelah meninggalnya mbah kakung, mbah putri sering sakit-sakitan yang pada akhirnya mbah putri hanya bisa berbaring di tempat tidur hampir setahun lamanya. Genap 15 bulan setelah meninggalnya mbah kakung, mbah putri meninggalkan kami untuk selamanya (inna lillahi wainna ilaihi raji'uun), semoga bliau diterima amal baiknya dan di tempatkan di sisNya ditempat yang terbaik...Aamiin.

Pada saat aku naik kelas 4, aku dipindah lagi ke SD Inpres 04 hingga lulus SD atas keputusan kepala desa untuk pembagian siswa sekolah. Karena untuk pembagian siswa diarahkan ke sekolah yang terdekat.

 

Kabur dari sekolah




 



 











Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

KH. Abdurahman Wahid

KH. Abdurahman Wahid
Presiden RI Ke-4

Blogger

Popular Posts

Blog Categories

Featured Post

Mendeteksi Angin Kencang

  Langkah Mendeteksi Angin Kencang Menggunakan Citra Radar Cuaca 1.Analisis Produk CAPPI CAPPI adalah irisan horisontal melalui atmosfer ole...

Copyright © Blog-QuL | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com