-->
Travelling
Description : Green Canyon is located in the village of Kertayasa, Ciamis, West Java, about 31 km from Pangandaran. When you arrive at the main entrance and Green Canyon parking area, you will see a lot of wooden boats popularly called “Ketingting” lined up neatly on the river bank. Boats are what will bring you to the Green Canyon with Rp.125.000, 00 costs per boat. 1 boat contents max capacity 6 people.
JENGGALA WATERFALL : This tourist attraction was originally called Curug Tempuan, because this waterfall is a confluence of several rivers that merge into one. So that local residents hold a meeting with village officials. This meeting discussed the change in the name of the waterfall. So the waterfall changed its name to Curug Jenggala.
THE LEGEND OF THE TAPOMAS RESERVOIR : In the 1980s, the pride of the residents was destroyed to stem the Serayu river during the New Order government, which at that time developed a dam project for a hydroelectric power plant (PLTA) by damming the Serayu river in Wanadadi District.
Green Canyon Pangandaran : Ngarai ini terbentuk dari erosi tanah akibat aliran sungai Cijulang selama jutaan tahun yang menembus gua dengan stalaktit dan stalakmit yang mempesona serta diapit oleh dua bukit dengan bebatuan dan rimbunnya pepohonan menyajikan atraksi alam yang khas dan menantang.
Description : Body rafting green canyon pangandaran

Perubahan Iklim Dalam Al Quran

Alqur'an Menjelaskan Perubahan Iklim

Ilustrasi Gambar Lpbi-nu.org


Pandemi virus corona Covid-19 telah berhasil mengubah banyak hal di bumi ini. Langit menjadi lebih cerah, timbunan emisi gas buang di atmosfer jauh berkurang, sejumlah sungai dan kanal di Italia menjadi lebih jernih, banyak hewan liar yang keluar dari persembunyiannya dan berjalan-jalan dengan bebas di permukiman manusia.

Bencana ini kemudian menyadarkan kita bahwa banyak hal telah berubah di bumi ini karena perbuatan kita selama ini. Ekonomi yang dipacu begitu cepat dan masif menjadi faktor utamanya. Dan begitu kita mengurangi aktivitas tersebut, perlahan alam kembali berubah ke kondisi semula.

Perubahan iklim yang tidak hanya berdampak pada naiknya suhu rata-rata bumi, tapi juga mengakibatkan banyak hal yang berubah, mulai dari hilangnya terumbu karang sebagai rumah ikan, naiknya permukaan laut, mencairnya es di kutub, hingga cuaca yang susah diramal, karena musim yang datang tak menentu.

Pada jaman Firaun, sekian ribu tahun yang lalu. Dalam surat Al-A’raf ayat 130, Allah berfirman:

 "Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran."

Kemarau begitu panjang, perubahan cuaca yang terjadi yang bersifat lokal, yang disebabkan saat itu perubahan iklim belum mengglobal seperti saat ini. Kerusakan yang mereka lakukan hingga Sungai Nil yang menjadi satu-satunya sumber air di Mesir (tempat Firaun berkuasa) berkurang alirannya. Yang jelas, ayat itu memberikan pelajaran kepada kita untuk memperhatikan cuaca dan tidak merusak keseimbangannya. Kalimat “supaya mereka mengambil pelajaran” tidak hanya ditujukan kepada  Firaun dan rakyatnya, tapi juga kepada kita semua. Bagaimanapun juga kisah itu diceritakan dalam Al-Quran supaya kita yang membacanya di kemudian hari, ikut mengambil pelajaran.

Kewajiban bagi kita memperhatikan musim juga tertuang dalam surat Al-Quraisy. Allah menceritakan tentang kebiasaan orang-orang Quraisy yang bepergian di musim dingin dan panas untuk mendapatkan makanan dan rasa aman. Bayangkan seandainya musim berubah dan orang tak bisa lagi menjadikan musim, yang berganti dengan teratur, sebagai perangkat mendapatkan makanan dan rasa aman.

Keteraturan musim yang membuat kita tahu kapan harus menanam, memanen, dan lain sebagainya. Perubahan iklim akan membuat keseimbangan yang berubah dan rasa aman.

 “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (Al Baqarah (2) : 164)

Qorin Tajudin, Kairo

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post