-->
Travelling
Description : Green Canyon is located in the village of Kertayasa, Ciamis, West Java, about 31 km from Pangandaran. When you arrive at the main entrance and Green Canyon parking area, you will see a lot of wooden boats popularly called “Ketingting” lined up neatly on the river bank. Boats are what will bring you to the Green Canyon with Rp.125.000, 00 costs per boat. 1 boat contents max capacity 6 people.
JENGGALA WATERFALL : This tourist attraction was originally called Curug Tempuan, because this waterfall is a confluence of several rivers that merge into one. So that local residents hold a meeting with village officials. This meeting discussed the change in the name of the waterfall. So the waterfall changed its name to Curug Jenggala.
THE LEGEND OF THE TAPOMAS RESERVOIR : In the 1980s, the pride of the residents was destroyed to stem the Serayu river during the New Order government, which at that time developed a dam project for a hydroelectric power plant (PLTA) by damming the Serayu river in Wanadadi District.
Green Canyon Pangandaran : Ngarai ini terbentuk dari erosi tanah akibat aliran sungai Cijulang selama jutaan tahun yang menembus gua dengan stalaktit dan stalakmit yang mempesona serta diapit oleh dua bukit dengan bebatuan dan rimbunnya pepohonan menyajikan atraksi alam yang khas dan menantang.
Description : Body rafting green canyon pangandaran

Anomali Suhu Muka Laut


Anomali Suhu Muka Laut Dan Curah Hujan Di Jawa


Suhu permukaan laut adalah suhu pada ketinggian milimeter di atas permukaan laut. Anomali suhu permukaan laut adalah perbedaan suhu laut di suatu lokasi pada waktu tertentu dengan suhu normal tempat itu.

Pola Curah Hujan Di Jawa
Curah hujan di Jawa memiliki pola tahunan satu kali maksimum pada bulan DesemberNopember dan satu kali minimum pada bulan Juni-Agustus seperti diperlihatkan pada Perubahan dari musim kemarau menuju musim hujan terjadi pada bulan September-Nopember. Pengaruh El Nino/Index osilasi selatan terhadap curah hujan di Jawa paling tinggi terjadi pada bulan September-Nopember yang merupakan masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan.

Curah hujan di Jawa sangat berkaitan dengan perubahan anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian timur dan tengah sekitar daerah equator serta anomali suhu permukaan laut di Laut Flores. Ketika di Samudera Pasifik terjadi anomali positif (EL Nino) curah hujan di Jawa mengalami penurunan. Sebaliknya bila terjadi anomali negatif (La Nina) curah hujan di Jawa meningkat. Hal ini terjadi pada bulan September – Nopember. (Erwin Mulyana : Hubungan antara anomali suhu permukaan laut dan curah hujan di Jawa).

Perubahan Musim
Jawa sangat dipengaruhi oleh suhu permukaan laut di Laut Flores, yaitu ketika suhu permukaan laut di daerah tersebut meningkat curah hujan di Jawa juga meningkat. Sebaliknya bila terjadi penurunan suhu permukaan laut maka curah hujan di Jawa akan berkurang. 

Bulan September-Nopember, pengaruh suhu permukaan laut di Laut Flores terhadap curah hujan di Jawa tidak sekuat pada bulan JuniAgustus. Pada periode ini, yang paling mempengaruhi curah hujan di Jawa adalah di Samudera Pasifik sekitar equator yaitu ketika suhu permukaan laut di daerah tersebut menurun, curah hujan di Jawa akan meningkat, sebaliknya bila suhu permukaan laut meningkat maka curah hujan di Jawa akan berkurang. Untuk periode Desember-Januari, tidak terlihat pengaruh anomali suhu permukaan laut yang signifikan terhadap perubahan curah hujan di Jawa. Hal yang sama dengan  pada periode selanjutnya (Maret-Mei).







NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post