Kabur Dari Sekolah - Blog-QuL

Advertisment

Breaking News

Kabur Dari Sekolah

 Takut Jarum Suntik Akhirnya Kabur Dari Sekolah


Pada saat aku duduk di kelas 6 SD, waktu itu hari sabtu sebelum jam istirahat pertama guru wali kelas 6 Pak Kadir sempat mengumumkan akan datang seorang mantri kesehatan. ("Pak kadir : nanti setelah istirahat ada mantri kesehatan jadi setelah istirahat tidak ada belajar, tolong jangan ribut"), bgitu kata beliau pak Kadir.

Setelah istirahat ada seorang temenku bernama Ponidi (pangilanya debleng) bilang ke teman-temannya  namanya warso, Roni (ketua kelas) dan Khozin :

 

Ponidi    : " Eh War....... tahu nggak mantri kesehatan mau ngapain......"

Warso    :" Emang mau ngapain....."

Ponidi    : " Biasanya mau nyuntik yang di pundak, dan nyuntiknya gak seperti biasanya kalo di pundak..."

Khozin : "Iya kata kakaku dulu pernah begitu, dan bekasnya sebesar kulit kacang tanah....."

Ponidi :" Ron apa kita kabur saja......?"

Roni : " Iyae....kakaku dulu aja sampai nangis....."

Warso : " Ehmmmmm......mending kita kabur saja...."

Roni : " Ingat....tapi kita kabur ya mending kabur semua....."


Akhirnya pada saat jam istirahat kita sepakat kabur dari sekolah tanpa membawa buku dan tas.Semua kabur tanpa kecuali dari 41 siswa baik laki maupun perempuan (laki-laki ada 19 siswa dan perempuan ada 22 siswa) termasuk putrinya pak Kadir bernama Iin ikut juga kabur..... (wah, wah, wah, wah, mantap tenan). 

Sebagian perempuan kabur pulang ke rumah masing-masing dan yang laki-laki kabur ke sungai sekalian bawa alat pancing ikan dan kebetulan ada salah satu temen namanya Waris yang punya kebun jagung deket sungai, akhirnya kita mancing sambil bakar jagung. Lokasi tempat bakar jagung sekitar 3 km dari sekolahan. 

Pada saat sedang asyik mancing dan bakar jagung tiba-tiba dari jauh terdengar suara "oooiiiiiiiiii pulang.....!!!!!!!!!!!!", tanpa komando kita lari semua dan semua ditinggalkan yaitu alat pancing dan jagung bakar yang saat itu belum ada yang selesai dibakar. Saaat itu yang pertama lari adalah Ponidi dan akhirnya kita ikut semua kemana arah Ponidi lari.

Setelah lari dan dilokasi persembunyian yang dirasa aman waktu itu sembunyi di bawah jembatan gantung yang menghubungkan desa Pundimas dengan desa Wingit. Terjadi perbincangan antar kita :

Roni : " Pon ngapa kamu lari ?????!!!!!!!!"
Ponidi : " Tadi denger gak ada orang teriak kita di suruh pulang... saya paham betul itu suaranya pak Ilham (Pak Ilham adalah seorang tukang kebun sekaligus penjaga sekolah )"
Aku (Affan) : " Berarti kita lagi di cari ni.... kemana lagi kita ngumpet..."

Akhirnya semua terdiam, sekitar 30 menit kita di bawah jembatan gantung dan semua membisu. (pembaca yang budiman aku ikut kabur karena aku juga takut disuntik hehehehe). Sesekali kita melihat orang sedang jalan kaki menyeberang melalui jembatan gantung. 

Tiba-tiba terdengar suara dari atas jembatan orang menegur kita semu. Setelah kita lihat siapa yang teriak negur kita, ternyata seorang hansip kampung Dukuh. Ternyata kita kabur,  sekolah melaporkan ke hansip kampung Dukuh.....(uwedaaannnnn tenan). Kita kenal hansip tersebut adalah pak Badrun dan termasuk orang yang disegani juga karena beliau adalah Polisi Desa (Poldes) Pundimas. 

Kita sepakat untuk naik, setelah sampai diatas jembatan tak disangka disitu sudah ada pak Kadir, pak Ilham dan juga kepala sekolah yaitu pak Imron. Tanpa banyak bicara dengan nada marah pak Imron bilang :

"Pokoke semua kembai ke sekolah, yang tidak mau kembali ke sekolah jangan harap tahun ini kalian bisa lulus !!!!!!!!!!!!!!!!!". (Apeeeeeeeeesssssssssssssss ternyata tukang karcis jembatan gantung yang ngasih tahu kalo ada segorombolan anak-anak pake seragam pramuka di bawah jembatan gantung). 

Akhirnya semua kembali ke sekolah tanpa kecuali dan kita masuk kelas, selang  beberapa lama kepala sekolah yaitu pak Imron masuk sambil bawa stick yang biasa dipake untuk nunjuk di papan tulis. Dengan nada membentak beliau berkata :

Pak Imron : "Siapa yang suruh kalian kabur dari sekolah !!!!!!!!!!!!!!.....Jawab...!!!!!!!!!!!!!!"
Tak satupun ada teman-teman yang berani menjawab termasuk aku. Kemudian masih dengan nada marah pak Imron berkata :
Pak Imron : " Sekarang urut absen satu persatu dari absen pertma ke ruang kepala sekolah.....cepat!!!!!"

Dalam hati kita bertanya tanya suruh ngapain ya.......??????. Kebetulan absen pertama seorang perempuan bernama Ani Zaitun. Aku lihat Ani jalan keluar kelas menuju ruang kepala sekolah dengan aura bingung, takut dan lain-lain. 

Kurang lebih 5 menit Ani Zaitun kembali ke kelas dengan wajah seperti habis menangis salah seorang temannya berna Bariyah bertanya :

Bariyah : " Tun suruh ngapain.....????? dimarahin ya....."
Ani Zaitun : "Engga Bar.....ternyata disuntik....."

Spontan teman sekelas merah semua wajahnya tanda ketakutan. (Bussseeeeeet udah dibelain kabur, lari-lari menyusuri sungai, ternyata mantri kesehatan si tukang suntik masih nungguin di sekolah....Apppeeesssssss. 

Sampailah giliranku, dengan rasa hati bercampur aduk mau gak mau aku juga harus ke ruang kepala sekolah dan langsung menuju tempat duduk yang sudah disiapkan. Si tukang suntik dengan santai memamerkan  jarum suntiknya...... njriiiiiit ternya benar sakitnya lumayan walaupun hanya beberapa menit. Tapi aku jadi berfikir kenapa kita harus kabur?....hmmmm terbayang dengan jarum suntik. Karena waktu juga udah siang setelah selasai semua kita diperbolehkan untuk pulang kerumah masing-masing. 

Sesampainya di rumah, aku di interogasi sama ibuku dengan berbagai pertanyaan, sambil tangan ibuku pegang telingaku. Intinya hampir semuanya dimarahin sama orang tuanya karena kabur dari sekolah apalagi lari menyusuri sungai dan saat itu udah menjelang ujian kelulusan.  Semua orang tahu sungai itu dalam dan cukup deras airnya dengan lebar sungai sesuai yang tertulis dipondasi jembatan adalah 48 meter. 


 


 























No comments

Terimakasih Anda Telah Berkunjung Ke Blog Kami, Silahkan Berkomentar Dengan Sopan.

close