Sulastri Anak Pedagang Sayur

 

Ilustrasi Gambar : Pinterest.caom

Pak Kadir wali kelas 6 ku hampir tiap hari mewanti-wanti terkait pelaksanaan ujian kelulusan. Angkatan aku adalah pertama kali adanya istilah NEM (Nnilai Ebtanas Murni). Pelaksanaan ujian tidak di sekolahan sendiri tapi di sekolah lain dan aku bertempat di SD Inpres 03 Pundimas  lebih jauh 2 km dari rumahku. 

Kita  selalu diingatkan kalo pengawas ujian dari sekolah lain dan sangat ketat. Peserta ujian tidak boleh tengak tengok karena kalo ketahuan akan di suruh keluar dari ruang ujian alias dianggap tidak lulus. Bahkan konon  jika saat ujian ada yang jatuh baik itu bulpoint, pensil, penggaris atau yang lain tidak boleh ambil sendiri, karena pengawas yang akan mengambilkan. 

Sebelum pelaksanaan ujian kita dianjurkan untuk survey tempat ujian yaitu ruang ujian sekaligus cek nomor meja ujian. Di lembar kartu ujian aku dapat ruang IX nomor meja 36. Sabtu pagi jam 8 aku di antar ayahku pake Scooter berangkat ke Sekolah SD Inpres 03 Pundimas karena hari senin nya adalah pelaksanaan ujiannya. Sesampainya di lokasi aku langsung mencari ruang no IX dan alhamdulillah cepat ketemu karena tidak jauh dari lokasi parkir dan aku langsung masuk mencari no meja 36. 

Fan.....???!!!!!..... tiba-tiba terdengar suara memangilku, aku berusaha mencari tahu dari mana sumber suara itu berasal. Ternyata sumber suara berasal dari tempat parkir dan ternyata Sulastri yang sedang nyetandar sepeda miliknya. Aku mendekatinya dan akupun menyapanya.

Aku :"Tri.....disini juga ujiannya... diruang berapa..?"

Sulastri :" Iya Fan....Aku di ruang sembilan...sebelah mana ya....Fan kamu ruang berapa?"

Aku : " Sama dong Tri....aku juga ruang IX.... ayuh aku anter....." 

Sulastri : "Ayuh lah.......nomer meja berapa Fan....aku nomoer 37....?"

Aku :"Wah di belakangku dong... aku nomor 36 Tri......."

Sambil jalan menuju ruang IX aku antar Sulastri untuk memastikan nomor mejanya dan seketika Sulastri keceplosan "Fan....aku bisa nyontek dong......". Spontan aku jawab "Ntar kamu gak lulus Tri ketahuan pengawas....hehehehe".

Sulastri adalah teman sekelasku dulu waktu masi di SD Inpres 02 Pundimas. Dia adalah 3 bersaudara, dua kakaknya jauh lebih tua karena kedua kakanya sudah lulus SMA. Sulastri anaknya bongsor walaupun masih kelas 6 SD tapi udah kaya anak SMA. Anaknya agak kalem dan cantik karena suka berdandan, mungkin karena terpengaruh kakaknya yang nomor dua karena profesinya sebagai biduan penyanyi dangdut yang cukup digemari oleh anak muda desa Pundimas. 

Kedua orang tuanya bekerja sebagai penjual sayur di pasar Pundimas. Kedua orang tuaku kenal baik dengan kedua orang tuanya karena sering belanja sayur di tempat ibunya Lastri. Setahuku Lastri anaknya memang agak kurang pinter bahkan waktu di kelas 1 dan 2 nilainya selalu di bawah rata-rata. Bahkan pernah di tes sama gurunya Bu Endah wali kelas 2 juga wali kelas aku juga dulu untuk menulis namanya sendiri aja masih salah. Setelah selesai memastikan ruang dan nomor meja ujian aku dan lastri langsung keluar ruangan.

Kulihat Ayahku sedang asyik ngobrol sama seorang bapak yang aku tidak kenal di tempat parkir, Lastri langsung menuju speda Jengky nya dan aku duduk dekat ayahku. Tiba tiba Lastri memanggilkudan aku beranjak mendekati Lastri. 

Sulastri :"Fan...kamu masih lama ya......"

Aku :" Iya Tri....Ayahku masih ngobrol..."

Sulastri : " Fan....pulang duluan aja yuk boncengan......" 

Saat itu aku sedang berpfikir " lastri badanya lebih besar dari aku" ..... eh tiba-tiba Lastri langsung bilang " Ntar aku yang didepan kamu bonceng aja"....lega rasanya....."ya ntar aku bilang ayahku dulu", jawaku. Ketika aku ijin ayah mengiyakan.... "Tapi hati hati ya Fan" kata ayahku. " Iya ayah" jawabku.

Aku pulang mbonceng Lastri yang jaraknya ke rumah Lastri kurang lebih 1,5 km. Dalam perjalanan tiba-tiba " Fan....ini gak kebalik" cletuk Lastri, "yang ada cowok boncengin cewek lah", lanjut Lastri. "Ya udah sini aku yang di depan" sautku....akhirnya jadi deh aku yang didepan. Dalam perjalanan pulang kita melewati sebuh warung Es Cingcau dekat Kantor Desa Pundimas. Aku ajak lastri mampir minum Es Cingcau dan Lastri mengiyakan. Sambil menunggu penjual meracik Es Cingcau tiba-tiba lastri ngajak ngobrol.

Sulastri :"Fan..... "

Aku : " Knapa Tri....."

Sulastri : " Fan...apa aku bisa lulus ya....kamu kan tahu aku orang bodo"

Aku : "Jangan Bgitu Tri..... kita kan sama-sama berusaha" 

Sampai disitu tiba-tiba penjual Es menyodorkan dua gelas Es Cingcau, karena udah haus langsung kita minum. Kurang lebih 20 menit kita mampir di Es Cingcau, kita melanjutkan perjalanan pulang, aku turun di pertigaan Pasar Pundimas untuk melanjutkan pulang jalan kaki sedang kan Lastri tinggal beberapa meter rumahnya dari pertigaan Pasar. 

Sesampainya dirumah sekitar jam 11.45 wib aku tidak melihat Scooter, rupanya ayahku belum pulang, hanya ibuku yang langsung menanyakan Ayah.

Ibuku :" Lah ayah mana Fan....kamu jalan kaki?"

Aku : "Tadi ayah ngobrol bu sama bapak-bapak aku gak tahu, trus aku pulang naik sepeda sama temen"

Ibuku : "oooo... ya udah ganti baju trus makan sana...gak usah main besok ujian"

Aku : " Iya bu....."

Setelah makan dan sholat dhuhur aku langsung istirahat tidur. Aku di bangunkan oleh ayahku sekitar jam 15.30 wib suruh sholat Ashar. Setelah sholat ashar masih di kamar tempat sholat, aku inget Lastri, dalam hatiku.... gmana caranya aku bisa bantu Lastri, toh dia duduk dibelakangku. Aku juga kasihan kalau sampai Lastri gak lulus, tapi wanti-wanti Pak Kadir wali kelasku pengawas sangat ketat katanya. 

Hari senin telah tiba... Subuh aku sudah bangun dan setelah sholat subuh aku langsung ambil buku mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia. Jam 6 aku sudah siap diantar ayah ke tempat ujian dan Tepat jam 6.30 aku sampai di SD Inpres 03 Pundimas tempat aku ujian. Selang beberapa lama Lastri sampai juga sementara ayah ku langsung pulang. "Cepat amat Fan...." kata Lastri. "Dari pada buru-buru" jawabku. 

Tak ada obrolan antara aku sama Lastri, sampai saat tepat jam 7.00 wib peserta ujian harus masuk ruangan ujian mulai jam 7.30 wib. Saat menuju ruangan tiba-tiba ideku muncul dan aku langsung bisik  ke Lastri mumpung pengawas belum masuk. 

Aku : " Tri....nanti lembar jawabku aku angkat dikit ya...tapi inget liat-liat pengawas"

Lastri : " Iya Fan.... tolong ya Fan...."

Walaupun aku sebenarnya takut, tapi aku lebih kasihan kalo temenku sampai gak lulus. Ini aku lakukan sampai selesai ujian dan bersyukur tidak sampai ketahuan pengawas. Tibalah saatnya pengumuman kelulusan, aku dapat kabar dari ayahku kalau aku lulus, Alahamdulillah....begitu juga Lastri juga lulus.

Gemercik air  mengalir dihalaman saat aku sedang cuci Scooter, tiba-tiba ada yang memangilku "Fan......", ternyata waluyo anak SD Inpres 02 Pundimas juga teman sekelasnya Lastri, "Eh yo...dari mana kamu" sapaku. "Selamat ya udah lulus SD..." lanjutku. "Fan...ada undangan ni..." waluyo sambil menjulurkan tangannya memberikan amplop warna pink dan ternyata undangan Ulang Tahun nya Lastri (12 Juni  Ultah nya Lastri). "Fan ada pesan dari lastri.... diharap datang katanya". "InsyaAllah...." kataku. "Fan aku lanjut ya masih ada ni undangan yang harus aku samapaikan" pamit waluyo. "Makasih Yo...." kataku.

Sepeda BMX miliku tak lupa aku cuci juga setelah cuci Scooter rampung. Esok hari tepat jam 15.30 sesuai undangan aku sampai dirumah Lastri. Sambil menyandarkan sepeda aku lihat dirumah Lastri sudah ramai, hampir semua teman sekelas Lastri hadir. Lastri keluar menyapaku "Fan...sini masuk... temen-temen dah pada nunggu...." kata lastri. "Iya Tri...." sautku. Lastri tampak gak seperti biasanya berdandan berlebihan, tapi tampak lebih cantik dan ayu mengenakan gaun warna pink. 

Aku masuk jabat tangan dengan kedua orang tua Lastri begitu juga dengan teman-teman yang lain. Tak lama acara segera dimulai, namun rupanya acara ultah Lastri sekalian acara syukuran kelulusannya sehingga lebih bernuansa religius. 

Tiba saaatnya potong tumpeng, Lastri mengambil pisau plastik dan piring yang berhias ala ULTAH langsung potong ujung tumpeng. Tiba tiba Lastri menuju ke arahku "kenapa gak ke ayah atau ibu" dalam hatiku. Serentak teman teman juga ayah dan ibu tepuk tangan.... aku sangat merasa gak enak dengan ayah dan ibunya.

 

 

 

























Post a comment

0 Comments