Estimasi Terjadinya Badai Petir



Wilayah Cilacap merupakan wilayah pesisir di selatan propinsi Jawa Tengah memiliki rata-rata  kejadian hujan yang disertai petir cukup tinggi. Untuk mitigasi bencana alam yang ditimbulkan karena adanya fenomena cuaca ekstrim, perlu adanya prakiraan fenomena cuaca baik tahap tumbuh, berkembang, dan tahap punah. Fenomena cuaca yang sering menyebabkan bencana alam, salah satunya adalah hujan lebat yang disertai petir, sehingga perlu ditingkatkan keakuratan informasi kapan akan terjadi hujan dengan intensitas tinggi bahkan disertai badai petir. Data RASON merupakan data hasil pengamatan unsur cuaca pada lapisan atas dan pengamatan dapat dilakukan dalam kondisi hujan skalipun, sehingga tidak bergantung pada kondisi cuaca.  Data yang diperoleh berupa tekanan udara, arah dan kecepatan angin, suhu udara, suhu titik embun, dan kelembaban udara pada atmosfer lapisan atas. Data RASON di plot pada diagram termodinamika dengan menggunakan perangkat lunak RAOB versi 5.7. Informasi yang diperoleh dari hasil plot data RASON berupa informasi tingkat kestabilan atmosfer yang selanjutnya digunakan untuk memprediksi perubahan  kondisi atmosfer terutama perkembangan pertumbuhan awan konvektif  yang berpotensi terjadinya hujan lebat disertai badai petir. Jenis awan konvektif dapat dianalisis dengan teknologi penginderaan jauh yaitu dengan memanfaatkan citra  kanal IR1, IR2, dan IR3. Untuk mengenali jenis awan konvektif dapat digunakan citra satelit kanal IR1 dan IR3 dimana jika selisih antara kanal IR1 dan IR3 kurang dari 110K. Pemisahan awan tinggi yaitu awan cirus (Ci) dilakukan dengan persamaan logika yaitu suhu IR1<2500K dan selisih antara IR1 dan IR2 lebih dari 1.50K. Teknik prakiraan cuaca dengan cara menganalisis perilaku kondisi stabilitas atmosfer dan memanfaatkan citra satelit dapat diketahui pertumbuhan awan konvektif yang memiliki potensi hujan lebat disertai petir.

Hasil pengolahan data RASON BMKG Cilacap tangal 27 September 2020 pukul 12.00 UTC sebagai berikut :


Hasil analisis labilitas udara dari pengamatan RASON pada tanggal 27 September 2020 pukul 19.00 WIB di wilayah Cilacap ( Gambar 2)  adalah sebagai berikut :

a. Lifted Index (LI) sebesar  -3.0 yang mengindikasikan potensi badai petir sedang. 

b. Total-total indeks (TT) sebesar 44.4 yang mengindikasikan konvektivitas lemah.

c. Indeks K (KI) sebesar 38.1 mengindikasikan adanya pertumbuhan awan  cumulonimbus yang menyebar luas.

Hasil analisis indeks LI, TT  disimpulkan bahwa potensi badai adalah lemah. Pertumbuhan awan hingga mencapai ketinggian ±10 km di troposfer atas dan tersebar luas dengan nilai KI 38.1. Windshare vertikal terjadi pada ketinggian sekitar 600 meter pada lapisan bawah dan pada ketinggian sekitar 16.000 meter pada lapisan atas yang mengindikasikan pengangkatan massa udara cukup kuat.  Indikasi kecepatan vertical maksimum 47 m/s menunjukan bahwa jenis awan yang terbentuk adalah  jenis awan cumulonimbus.   Parameter lain adalah nilai indeks CAPE sebesar 1100 j/kg  mengindikasikan adanya potensi untuk terjadi hujan yang disertai petir.  

Hasil analisis citra MTSAT menunjukan  pertumbuhan awan konvektif diatas wilayah Cilacap mulai sore hari. Dari hasil analisis data RASON pukul 19.00 WIB yang menunjukan kondisi Atmosfer yang tidak stabil dan potensi pertumbuhan awan konvektif cukup tinggi. Hal ini sangat jelas jika dilihat berdasarkan perkembangan awan konvektif yang ditunjukan pada citra MTSAT dibawah ini.

Kondisi Awan Konvektif tanggal 27 September 2020 Pukul 16.00 WIB

Kondisi Awan Konvektif tanggal 27 September 2020 Pukul 18.00 WIB

Perkembangan awan konvektif berdasarkan citra MTSAT sesuai dengan hasil pengolahan data RASON  Cilacap tangal 27 September 2020 pukul 19.00 WIB yang merupakan hasil pengamatan RASON pada saat sebelum terjadi hujan disertai petir seperti Gambar di bawah ini.


Hasil analisis labilitas udara dari pengamatan RASON pada tanggal 8 Pebruari 2015 pukul 18.00 WIB di wilayah Cilacap seperti gambar diatas  adalah sebagai berikut :

a. Lifted Index (LI) sebesar  -4.4 yang mengindikasikan udara sangat tidak stabil dan potensi badai petir kuat. 
b. Total-total indeks (TT) sebesar 42.3 yang mengindikasikan konvektivitas lemah
c. Indeks K (KI) sebesar 33.9 mengindikasikan adanya pertumbuhan awan  cumulonimbus yang menyebar luas

Hasil analisis indeks LI disimpulkan bahwa potensi  terjadinya badai adalah kuat. Awan terbentuk hingga mencapai ketinggian ±14 km di troposfer atas. Indikasi kecepatan vertical maksimum 67 m/s menunjukan bahwa jenis awan yang terbentuk adalah  jenis awan cumulonimbus.  Hal ini diperkuat dengan nilai CAPE pada saat hujan sebesar 2260 j/kg  dan downdraft CAPE pada 6 km sebesar 174 j/kg dan  mengindikasikan adanya hujan yang disertai badai petir.

Dari hasil analisis data RASON maupun Citra MTSAT dalam membuat prakiraan cuaca dapat disimpulkan bahwa hasil analisis data RASON jika di kombinasikan dengan citra MTSAT akan memberikan informasi yang lebih akurat terutama dalam memprediksi pertumbuhan awan konvektif yang memiliki potensi hujan disertai petir. 



Post a comment

0 Comments