Water Fountain in Baturaden Tour

 


Legenda Baturaden
Baturaden sendiri berasal dari kata ‘Batur’ yang dalam bahasa Jawa berarti Pembantu, Teman, atau Bukit dan ‘Raden’ berarti Bangsawan. Ada dua versi sejarah Batu Raden, yaitu versi Syekh Maulana Maghribi dan versi Kadipaten Kutaliman.Menurut versi yang pertama, Syekh Maulana Maghribi, Pangeran Rum yang berasal dari Turki dan beragama Islam, pernah merasa penasaran dengan cahaya terang misterius yang menjulang ke angkasa dan bersinar di bagian timur. Sang Pangeran kemudian mencari asal cahaya tersebut.

Setelah melakukan pendakian hingga ke puncak sebuah gunung, Sang Pangeran melihat ada seorang pertapa Buddha yang bersandar pada sebuah pohon jambu yang memancarkan sinar cahaya ke atas. Lokasi ini kemudian dikenal dengan sebutan Batu Raden. Sedangkan menurut versi kedua, cerita Batu Raden terkait dengan kisah cinta antara anak perempuan Adipati Kutaliman dengan pembantunya yang menjaga kuda.

Legenda Batu Raden mengkisahkan seorang abdi atau pembantu yang mencintai putri dari majikannya sendiri, putri seorang adipati dari Kadipaten Kutaliman yang berada di sebelah barat Batu Raden.

Hubungan yang berbeda derajat itu tidak direstui oleh majikannya dan akhirnya mereka diusir dari Kadipaten. Akhirnya mereka menemukan tempat yang nyaman dan sejuk untuk tinggal hingga akhir hayat. Akhirnya tempat tersebut berkembang dengan nama Batur Raden, dari kata “batur” (pembantu) dan “raden” (majikan).


Raden Ayu Rara Suminten (anak majikan) dan Jaka Gamel (pembantu majikan)  akhirnya buron. Melarikan diri dari Kadipaten Pagemprongan. Jalinan cinta antara sepasang kekasih, putri kadipaten dengan pembantunya atau batur perawat kuda menjadikan murka sang Adipati Jayeng Parogo.

Padahal, Raden Ayu Rara Suminten sudah dijodohkan dengan Pangeran Genowo, kemenakan sang Adipati. Sejoli itu, sang putri dengan baturnya sudah menikah dan mempunyai anak perempuan yang diberi nama Dewi Cendana Sari. 

Saat itu Jaka Gamel dan Raden Rara Suminten sedang menimang-nimang putrinya di suatu desa di kaki gunung tempat putri melarikan diri dengan sang suami yang sangat dicintai. Sambil menimang bayi Rara Suminten grenengan nembang,”Ta lelo, lelo lelo ledhung sing ayu rupane… “. Jaka Gamel “Diajeng, jangan selalu dirisaukan. Mari, kita pasrah kepada Sang Murbeng Dumadi. Di tangan Gusti Allah takdir kita ditentukan “, 

Tiba-tiba terdengarlah suara riuh rendah, suara para prajurit yang berteriak-teriak yang dipimpin oleh Pangeran Genowo yang tengah mencari dua sejoli Jaka Gamel dan Raden Ayu Rara Suminten.

Sehingga terjadilah bentrokan antara Jaka Gamel dengan para prajurit yang dipimpin oleh Pangeran Genowo dibantu Demang Truna Kenceng. Walau dikeroyok. Dasarnya Jaka Gamel memang punya kanuragan mumpuni sanggup menghadapi keroyokan tersebut.

Akhirnya terjadi duel satu lawan satu antara Jaka Gamel berhadapan dengan Pangeran Genowo. Perang tanding itu pun berakhir dengan tewasnya Pangeran Genowo. Para prajurit pun kocar-kacir, Demang Truna Kenceng panik berusaha melarikan diri.

Pangeran Genowo tewas lalu dibawa pulang rombongannya kembali ke Kadipaten Pagemprongan. Sementara itu setelah kejadian tersebut Raden Ayu Rara Suminten dan Jaka Gamel tengah merenungi perjalanan cintanya sampai dengan adanya kejadian kepergok dengan rombongan Pangeran Genowo.

Rara Suminten,”Kangmas Jaka Gamel, bagaimana ini? Kenapa terjadi peristiwa ini? Lalu bagaimana kita?”

Jaka Gamel,”Yah, begitulah kejadiannya. Mari kita pasrah saja kepada Gusti Allah Sang Murbeng Dumadi”

Saat kedua sejoli dalam keadaan pasrah, tiba-tiba terdengarlah suara bergemuruh laksana geludug berkesinambungan disertai angin berdesau kencang. Pohon-pohon pinus di kaki gunung itu bergoyang meliuk-liuk menambah suasana penuh misteri. Kemudian terdengarlah suara kakek-kakek lamat-lamat dari kejauhan makin lama makin dekat dan terdengar nyaring. ”Putuku ngger Jaka Gamel dan Rara Suminten. Ini memang sudah menjadi takdir, putuku, Gusti Allah Sang Murbeng Dumadi sudah menetapkan garis hidupmu cucuku sakloron. Ini adalah lelakon yang harus kalian jalani cucuku, ngger Jaka Gamel dan Rara Suminten”.

Suara itu berhenti sebentar. Sementara itu angin tetap berdesau sehingga suara menggema menyelusur lereng-lereng lembah menyusup diantara pohon pinus. Lalu terdengan kembali suara itu. ”Oleh karena itu, camkanlah dan perhatikan kata-kataku ini cucuku. Tempat di kaki gunung ini tempat kejadian ini kunamakan Baturaden yang artinya terpatrinya cinta batur dengan raden. Baturaden ini semoga kelak mbesuk mben bisa digunakan untuk pepeling atau peringatan untuk semua orang bahwa cinta yang suci itu tak kenal akan pangkat derajat dan harta". Begitulah ceritanya tentang Wisata Baturaden 


 



Lokasi Wisata Baturaden
Lokawisata, Dusun I Karangmangu, Karangmangu, Kec. Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53151 Indonesia.

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments